Destinasi Kuliner

Catatan Rasa Rijsttafel, Walking Tour with Chef, Kota Tua Jakarta

“Setiap perjalanan selalu punya ‘rasa’ yang berbeda”, dari sinilah Rasa Rijsttafel muncul ke permukaan. Bicara makanan memang sering berakhir dengan kesimpulan ‘enak’ atau ‘tidak enak’. Namun, untuk sampai ke meja makan, rijsttafel punya perjalanan panjang yang bukan soal kelezatan saja, melainkan budaya dan sejarah.

Rijsttafel hadir karena perpaduan kebiasaan makan orang Nusantara, yaitu makan nasi beserta ragam lauk-pauk, yang kemudian diikuti oleh orang-orang Belanda. Kebiasaan makan orang-orang Belanda yang menggunakan sendok dan garpu pun mempengaruhi cara makan Pribumi Nusantara. Karena “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, maka rijsttafel menyuguhkan menu-menu Nusantara.

Cara makan, menikmati aneka hidangan, dan napak tilas pada masa kejayaan rempah di Nusantara sekaligus kepahitannya, merupakan pengalaman rasa yang memiliki kesan tersendiri. Pengalaman tersebut bisa diceritakan kepada teman-teman, keluarga, bahkan anak-cucu. Sehingga tanpa sadar, kita mewarisi nilai-nilai apa yang telah diwariskan sebelumnya, menjadi lestari – yang buruk dijadikan pelajaran, yang baik dijadikan pedoman.

Chef Wira Hardiyansyah 2018 – Host Rasa Rijsttafel, Walking Tour with Chef

Sebelum Rasa Rijsttafel, 3 Agustus 2019, Kota Tua Jakarta

Rasa Rijsttafel ada karena sebuah perjalanan. Pertemuan pertama kali IndoEpic dengan Chef Wira Hardiyansyah, berlanjut pada pertemuan di depan Museum Fatahillah (Museum Sejarah Kota Tua). Dia membisikan sesuatu di telinga, “Tahukah di dalam sana ada kisah tentang kuliner?”, sambil tangannya menunjuk museum.

Setelah menyelusuri Museum Sejarah Kota Tua, kami berdua langsung, “Let’s do it!” Semakin yakin sesudah berjalan-jalan di Museum Wayang yang penuh kejutan. Pertemuan itu terjadi 1,5 tahun yang lalu.

Keinginan itu sempat terpendam,karena keraguan yang hinggap pada pikiran dan kesibukan. Lantas, datang lagi pertemuan dengan Salman (Mari Kita Piknik) dan Sarah Usman yang mengatakan, “Ayo, make that happen!”

Historia Kotatua, Jakarta

Pada bulan Mei 2019, IndoEpic bertemu dengan Chef Abdul dan Rully dari Historia Kotatua. Mereka menerima konsep Rasa Rijsttafel dengan tangan terbuka. Lalu berlanjut pada pertemuan kedua, kali ini bersama Chef Wira, pada bulan Juli 2019. Tak mau lama membiarkan mimpi berlari, bertiga kami “ketuk palu” Rasa Rijsttafel – Walking Tour – 3 Agustus 2019.

Seketika itu pula, semesta menyambut, sampai Chef Agus Hermawan dari Ron GastroBar, Amsterdam menghubungi kami. Dan setiap harinya, dia hanya menelpon untuk memberikan dukungan dan saran-saran. Chef Agus Hermawan, Heritage Pop, Mbak Anne & IDFB, Aditya Rangga Pratama, Windu Mustika, Mas Rahab (Klayaban & KPK), dan Emira, Si Penerjemah yang baik hati, mereka semua adalah orang-orang yang cinta Nusantara dan menyalurkan tangan, kasih, dan pikirannya yang tak ternilai. Bahkan Andrian Wira (Ika) dari IDFB, bergabung dengan IndoEpic untuk program food & travel heritage selanjutnya. Tak ketinggalan, Salman dan Andini dari Mari Kita Piknik yang berkolaborasi dengan IndoEpic untuk program wisata epic.

Rasa Rijsttafel, Walking Tour, Museum Sekarah Kota Tua, Jakarta

Rasa Rijsttafel, 3 Agustus 2019, Kota Tua Jakarta

Tidak mudah mencari 20 peserta tur, apalagi sudah tidak ada waktu mencari sponsor untuk perjamuan mewah. Berkat data yang tersimpan, networking, dan kecanggihan teknologi, 30 orang mendaftar, malah ada komunitas, menghubungi melalui link form maupun secara langsung via WhatsApp, namun yang fixed 12 orang saja. Itulah seni mencari peserta … haha.

Seminggu sebelum walking tour, Belanga.id menyampaikan keinginan menjadi media partner. Dua hari sebelum hari-H, Detik Food bersedia hadir. Pada pagi yang belum terik, SCTV konfirmasi untuk datang. Kejutan! Sebab, kami tak pernah menduga SCTV akan meliput tur pertama kami.

Rasa Rijsttafel, Walking Tour, Museum Sekarah Kota Tua, Jakarta

Selain itu, kami sempat berpikir bahwa banyak masyarakat tidak menyukai sejarah. Namun, anggapan itu salah. Terbukti, antusias pendaftar, terlebih para peserta yang konsentrasi mendengarkan Chef Wira yang berkisah rempah-rempah Nusantara dan rijsttafel di Museum Sejarah Kota Tua dan Museum Wayang. Uniknya, peserta terdiri dari lintas usia dan berbagai profesi. Arief Muhayyan dan Irma Zahrotunissa.W adalah dua mahasiwa yang sedang menyelesaikan skripsi. Sedangkan yang lainnya (tanpa menyebut nama), ada yang bekerja di Komnas Perempuan, ada yang berprofesi sebagai financial corporate consultant, wiraswasta, pekerja kantor, pemilik kedai kopi, desainer grafis, dan lain-lain. Rata-rata usia mereka di atas 30 tahun, bahkan ada yang berusia 63 tahun. Menunjukan bahwa mengenal sejarah dan budaya tidak memandang usia.

Dari seluruh peserta, ada satu peserta, Elwi Gito yang tampak tidak puas dengan walking tour to museum. Bagi Elwi, banyak yang bisa diceritakan dari benda-benda yang terpajang di Museum Sejarah Kota Tua, “Kenapa banyak yang dilewatkan?”, tanyanya. Sebab, rempah-rempah Nusantara mempunyai kisah dari abad pertama hingga kini. Satu dekade bahkan satu tahun saja, manusia membuahkan banyak peristiwa, termasuk meninggalkan jejak melalui benda-benda dan berbagai cara hidup pada masanya. Dan itu akan memakan waktu panjang untuk diceritakan. Inilah alasan kami menyuguhkan kisah rempah yang hanya berkaitan dengan rijsttafel.

Chef Abdul, Rasa Rijsttafel, Walking Tour, Historia Kotatua, Jakarta



Ketidakpuasan Elwi Gito berubah, ketika cerita budaya risjttafel dituturkan oleh Chef Wira dan cara makan dan hidangan dipresentasikan oleh Chef Abdul bersama tim Historia Kotatua. Di wajah Elwi Gito, senyumannya mengembang. Saat kami menyampaikan akan ada Epic Food Series edisi kedua dengan tema berbeda, Elwi langsung berseru, “Ikut lagi, dong!”

Selesai menikmati hidangan rijsttafel, Ibu Tuti Budiman dan Ibu Kristis Purwa me-WhatsApp, “Mantappp acaranya, apalagi makanannya … haha …” Lalu, semua peserta ketagihan sayur babanci dan bitterballen, dan mereka ingat cerita di balik “babanci”. Kemudian, kami bertanya bagaimana dengan sejarah rempah dan budaya rijsttafel, apakah ‘warisan’ itu disalurkan secara baik? Mereka menjawab, “Iyesss!”

Peserta Rasa Rijsttafel, Walking Tour, Kota Tua Jakarta

Tujuan kami membuat Rasa Rijsttafel untuk melestarikan warisan sejarah dan budaya Nusantara terkait rijsttafel. Sama halnya saat mendirikan IndoEpic, ‘keberlanjutan’ warisan dan para pelaku (pelestari) pada wisata alam maupun kuliner dan budaya, itu menjadi landasan bagi kami.

Terima kasih kepada seluruh peserta Rasa Rijsttafel, media partner: Belanga.id, Detik Food, dan SCTV. Dan tentu, tim Rasa Rijsttafel: Chef Wira Hardiyansyah, Chef Abdul dan tim Historia Kotatua, Beqe, Ika, dan tim Mari Kita Piknik beserta Rahab Ganendra.

Rasa Risjttafel, Walking Tour 2019, Kota Tua Jakarta

Tur bersama: pertemuan bersama. Pertemuan banyak memperkenalkan persona menawan, wawasan dan keindahan yang baru.”

Related Posts

X