Destinasi Wisata

Traveling Dari Masa Ke Masa Kemaritiman Nusantara: Museum Maritim Indonesia

Kami tak pernah menduga jalan-jalan ke Museum Maritim Indonesia menjadi sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan. Sebelumnya kami sempat mengira bahwa Museum Bahari sama dengan Museum Maritim. Ternyata Museum Bahari terletak di Pelabuhan Sunda Kelapa sedangkan Museum Maritim Indonesia berada di Pelabuhan Tanjung Priok. Nah, sejarah pelabuhan Tanjung Priok pun lahir dari pelabuhan Sunda Kelapa.

Tahu dong pelabuhan Sunda Kelapa sudah terkenal dengan ramainya perdagangan komoditas lintas negara sejak abad ke-12. Bisa dibilang pelabuhan Sunda Kelapa merupakan cikal bakal pembangunan pelabuhan Tanjung Priok yang kemudian menjadi pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia. Jika tidak ada peristiwa lumpur yang mengendap di pelabuhan Sunda Kelapa, bisa jadi tidak ada pelabuhan Tanjung Priok yang dibangun pada tahun 1877. Dibukanya Terusan Suez tahun 1869 yang meningkatkan jumlah kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Nusantara dan dihapuskannya tanam paksa tahun 1870, membuat Pemerintah Hindia-Belanda semakin bertekad membangun pelabuhan Tanjung Priok (berjarak 8 km dari pelabuhan Sunda Kelapa).

Menuju Museum Maritim Indonesia Jarak kedua pelabuhan tersebut memang berdekatan, tapi ketika kami mendengar “Tanjung Priok” langsung terbayang di kepala, “duh, naik apa, ya ke sana, ‘kan jauuh.” Tiba-tiba Rahab (Kompasianer Penggila Kuliner) teringat Stasiun Kota, “Eh dari Stasiun Kota,‘kan, bisa ke Tanjung Priok,” saya langsung bilang, “yesss!” Saat hari-H saya terbahak karena melihat jalur Tanjung Priok terletak paling atas di mesin pembelian tiket commuter line. “Ya, udahlah nikmati saja perjalanan di kereta,” ujar Rahab sambil cengegesan. Ternyata dari Stasiun Kota menuju Stasiun Tanjung Priok hanya memakan waktu 15 menit. Perjalanan jadi menyenangkan, meski hanya traveling di sekitar Jakarta.

Stasiun Tanjung Priok – Image: Wikipedia

Sampai di Stasiun Tanjung Priok terlihat bangunan kokoh zaman kolonial bergaya neo klasik dan kontemporer. Desain bangunan yang sangat khas, terasa seolah kami berada di Eropa. Stasiun Tanjung Priok pun punya kaitan erat dengan pelabuhan Tanjung Priok dan Sunda Kelapa. Stasiun Tanjung Priok pernah menjadi penghubung antara Sunda Kelapa dan Pelabuhan Tanjung Priok. Stasiun Tanjung Priok pertama selesai dibangun tahun 1883 di wilayah pelabuhan dan memiliki tempat penginapan. Dua tahun kemudian, 1885 Pelabuhan Tanjung Priok diresmikan bersamaan dengan Stasiun Tanjung Priok. Empat puluh dua tahun selanjutnya, terjadi perluasan pelabuhan, maka stasiun dipindahkan ke tempat Stasiun Tanjung Priok kini berada (stasiun kedua dibangun tahun 1925). Sebenarnya kisah Stasiun Tanjung Priok cukup panjang, mohon maaf kami hanya tuliskan sampai di titik ini.

Bicara pelabuhan Tanjung Priok, tidak ada bayangan seperti apa bentuknya sekarang ini apalagi Museum Maritim. Juga soal transportasi dari stasiun ke museum, naik apa dan seberapa jauh. Perjalanan kali ini kecanggihan teknologi punya peran besar. Google Maps dan transportasi online menjadi penyelamat. Google Maps untuk menghitung jarak dan waktu, transportasi online untuk penunjang sarana. Traveler pun bisa hanya melihat dari transportasi online, tanpa Google Maps.

Jarak dari Stasiun Tanjung Priok ke Pelabuhan Tanjung Priok hanya 10 menit menggunakan mobil transportasi online. Persepsi lokasi Tanjung Priok yang jauh, akhirnya terpatahkan!

Museum Maritim Indonesia – Image: IndoEpic.com

Sejarah Museum Maritim Indonesia, Tanjung Priok

Telusur Museum Maritim berasal dari ide Lisa yang berprofesi sebagai guide untuk destinasi DKI Jakarta. Tapi ketika di depan muka museum pun, kami berdua tidak juga melihat batang hidungnya. Tapi kami percaya Lisa pasti datang.

Kami berdua masuk ke dalam museum dan langsung terlihat lukisan mural yang ditampilkan dengan projection mapping. Lukisan mural kontemporer dilukis oleh Nazir Bondan tahun 1958. Jika sering melihat museum-museum di luar negeri, penggunaan video maupun projection mapping bukanlah hal baru. Namun satu museum saja yang mulai, ini sudah bertanda bagus, museum-museum di Indonesia perlu menata kembali penampilan visual agar menarik minat kaum muda.

Lukisan Mural di Museum Maritim Indonesia - Image by: indopeic.com
Lukisan Mural di Museum Maritim Indonesia – Image by: indopeic.com

Setelah lukisan mural, ada 2 ruang yang terbagi di sayap kanan dan kiri, dan kami dituntun masuk ke ruang kanan terlebih dahulu oleh Mas Hermawan, pemandu Museum Maritim. Katanya, “Kalau ruang sebelah kanan itu ruang ‘masa lalu’, sedangkan ruang kiri adalah ruang masa kini dan masa depan.” Yang dimaksud Mas Hermawan sebenarnya ruang kanan adalah ruang sejarah kemaritiman Indonesia sebelum tahun 1945, sedangkan sisi kiri ialah ruang perkembangan maritim setelah 1945.”

Kedua ruang tersebut dibuat menyesuaikan sejarah kemaritiman Nusantara dan Pelabuhan Tanjung Priok yang semula dimiliki Pemerintah Hindia-Belanda. Kemudian sempat berada di kekuasan penjajah Jepang, lalu beralih kepemilikan ke tangan Pemerintah Indonesia setelah Belanda benar-benar ‘merelakan’ kemerdekaan Indonesia.

Bangunan museum berdiri sekitar awal abad ke-20 yang berfungsi sebagai kantor pengelola pelabuhan. Pada zaman itu di Eropa termasuk Indonesia, banyak bangunan-bangunan yang didirikan bergaya arsitektur international style. Yang terinspirasi dari buku penulis Henry-Rusell Hitchcock dan Philip Johnson yang memfokuskan pada modernisme di seluruh dunia.

Pada tanggal 8 Desember 2018, Museum Maritim Indonesia mulai dibuka untuk umum dan masih gratis. Rencananya pada pertengahan tahun 2019, Museum Maritim Indonesia akan launching .

Peta Migrasi Austronesia, Museum Maritim Indonesia - Image by: indoepic.com
Peta Migrasi Austronesia, Museum Maritim Indonesia – Image by: indoepic.com

Museum Maritim Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan

Sebelum menjelajah masa, tak lama Lisa muncul. Bener, ‘kan, Lisa pasti datang! Jadilah kami bertiga melancong dari masa ke masa kemaritiman Nusantara.

Pertama kali terpampang saat masuk ruang Sebelum Indonesia 1945 ialah Peta Migrasi Austronesia. Menurut beberapa penelitian, migrasi Austronesia yang dilakukan kelompok-kelompok asal daerah Yunan, Cina Selatan sampai ke Nusantara sekitar 3000 – 2500 SM. Migrasi yang dilakukan saat itu tentu saja berlayar menggunakan perahu untuk mencari tempat tinggal.

Diperkirakan mereka menggunakan perahu cadik yang memiliki layar dan papan lesung di kedua sisi. Pada zaman itu mereka telah mengenal sistem bercocok tanam—pisang, kelapa, sukun, sagu, labu, ubi, ketapang, dan kerang merupakan bahan pangan utama. Kapak lonjong, gerabah, beliung, pisau batu, pemukul kulit kayu, tembikar, patung babi dan anjing, tengkorak manusia, sirih, pemeliharaan hewan ayam, anjing dan babi, dan hasil laut seperti ikan, dan kerang adalah ciri khas bangsa Austronesia pada masa itu.

Kehidupan di Kerajaan Majaphit - Image by: indoepic.com
Kehidupan di Kerajaan Majaphit, Museum Maritim Indonesia – Image by: indoepic.com

Bergeser sedikit dari Peta Migrasi Austronesia, kami melihat nekara, yaitu gendang perunggu yang digunakan untuk upacara, emas kawin, dan alat tukar-menukar. Kemudian, benda-benda seperti pipisan, gerabah, dan batu obsidian menjadi tanda Sejarah Rempah Nusantara mulai ‘dituturkan’ oleh Museum Maritim. Mini diorama kehidupan di Banda yang mulai ditemukan bangsa Portugis karena cengkih dan pala ; kehidupan di zaman Majapahit; berbagai artefak; seolah hidup di antara kami yang bernafas di zaman Milennial.

KAlat Navigasi: Kompas, Museum Maritim Indonesia - Image by: indoepic.com
Alat Navigasi: Kompas, Museum Maritim Indonesia – Image by: indoepic.com

Terkait pelayaran, ada miniatur kapal Jung Jawa dan lainnya yang antik dan keren. Peralatan navigasi, seperti kompas, sextant, dan astrolabe menjadi perhatian kami. Soal kompas pasti sudah banyak yang tahu, namun yang ditampilkan di sini berupa kompas yang digunakan pada abad ke-13. Jika kompas cara pengunaannya untuk penunjuk arah mata angin, sextant untuk mengukur sudut antara benda angkasa dan cakrawala, sedangkan astrolabe digunakan untuk mengukur ketinggian matahari, posisi bintang, dan menentukan waktu saat berada di tengah laut—alat navigasi ini diperkirakan telah ada sebelum tahun 1503 1.

Semakin masuk ke dalam, penyajian visual dua dimensi maupun tiga dimensi kian menarik. Beberapa di antaranya: ruang Gudang Rempah yang ditata dengan pencahayaan redup dan terdapat karung-karung dan drum-drum kayu berisi rempah-rempah, peti uang berlogam beserta seorang Pribumi yang sedang mengangkat karung, pengawal dari Negeri di Atas Angin, dan seorang yang sedang meneropong (bangsa Eropa); visual Pelabuhan Masa Kolonial—jika memutar roda kemudi, pengunjung bisa melihat foto dan singkat penjelasannya; patung pengawal pun dibuat mirip manusia asli—mata biru, hidung mancung, dan cambang yang telah dicukur rapi dan bersih; display infografis Modernisasi Pelabuhan dan Pelayanan di Hindia-Belanda; replika kapal modern dengan kesibukan para pekerja Pribumi mengangkut karung-karung; berbagai replika prasasti; dan lain-lain.

Gudang Rempah Museum Maritim Indonesia - Image by: indoepic.com
Gudang Rempah Museum Maritim Indonesia – Image by: indoepic.com

Selesai telusur kemaritiman Nusantara, kami memasuki ruang Masa Kini dan Masa Depan. Sebuah ruang yang masih bercerita sejarah perkembangan kemaritiman setelah Indonesia merdeka dan selanjutnya. Di area ini teknologi mempunyai peran sebagai ‘penutur’. Siap-siap menggunakan scan code QR (yang belum pernah digunakan museum-museum di Indonesia), menyaksikan video mapping, ruang simulator kapal tunda, dan … bagaimana jika kamu datang langsung ke Museum Maritim dan melihat apa saja yang ada dan merasakan masa lalu yang serba tradisional, lalu menikmati sejarah yang diceritakan kecanggihan teknologi.

Fasilitas Museum Maritim Indonesia

Melihat perkembangan sejarah maritim otomatis berhubungan dengan perkembangan teknologi yang digunakan setiap masa. Kali ini, Mas Hermawan, official guide Museum Maritim, digantikan oleh Kang Andi, Kabid Pemanduan dan Pelayanan, yang ‘membisikkan’ rencana Masa Depan Pelabuhan Tanjung Priok 30 tahun mendatang. Maket future pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok terpampang di dalam meja panjang dan besar yang dilapisi kaca. Bukan hanya shooping online ataupun food order yang menggunakan perangkat aplikasi digital, tapi pelabuhan bakal menggunakan digital dan sistem manajemen yang lebih efisien dan efektif. Nantinya kapal-kapal yang masuk ke pelabuhan Tanjung Priok bakal mengetahui tempat parkirnya melalui aplikasi.

Layout Pelabuhan Tanjung Priok - Image by: indoepic.com
Layout Pelabuhan Tanjung Priok – Image by: indoepic.com

Dan bukan itu saja, PT. Pelabuhan Indonesia II (IPC), BUMN yang mengelola pelabuhan Tanjung Priok, telah merancang berbagai inovasi terkait logistik, manajemen data, crane, jalur perairan dan darat, dan lainnya menggunakan kecanggihan teknologi. Sekali lagi, silahkan datang dan mencari tahu langsung ke Museum Maritim.

Masih di lantai 2, masyarakat umum bisa menggunakan 2 tipe meeting room, perpustakaan, toilet, mushola, dan cafe (coming soon). Sedangkan di lantai 1, tersedia fasilitas kotak penitipan barang, toko souvenir, dan panggung terbuka. Dan jika beruntung, kamu bisa naik ke lantai paling atas menuju Menara Pandang. Di area ini, pengunjung dapat melihat pemandangan kesibukan kapal-kapal yang berada di pelabuhan Tanjung Priok.

Kesibukan Pelabuhan Tanjung Priok dari Menara Pandang Museum Maritim Indonesia

Program Museum Maritim Indonesia

Untuk menarik minat masyarakat umum termasuk generasi muda, Museum Maritim bakal mempunyai program unik, yaitu:

  1. Museum Playdate (Bermain di Museum)
  2. Education Tour for Student, belajar sambil tur ke Pulau Edem, Onrust
  3. Tour menggunakan kapal tunda dari Pelabuhan Sunda Kelapa ke Pelabuhan Tanjung Priok
  4. Tour bersama kapal Dewaruci
  5. Workshop, sotytelling, dan diskusi

O, ya, tidak perlu menunggu launching Museum Maritim pada pertengahan tahun nanti, sekarang kamu sudah bisa berkunjung, mumpung masih gratisss.

Buat kamu yang mencari spot instagramable tidak perlu khawatir, sebab di sini banyak spot-spot catchy yang bisa bikin teman-teman kamu iri dan penasaran. Apalagi suguhan diorama bisa membuat kamu serasa hidup di zaman itu. Dan salah satu pemandu, Mas Hermawan masih bagian dari Indonesian Heritage Society, tahu sendiri dong ‘kegilaan’ mereka terhadap sejarah.

Kapal Tunda Pelabuhan Tanjung Priok dari Menara Pandang Museum Maritim Indonesia

Terima Kasih untuk Kang Andi dan Mas Eman Hermawan yang telah menemani perjalanan kami.

Ditulis dan foto: SN

1Kompas.com—artikel ditulis Rizky Chandra Septania

“Real museums are places where Time is transformed into Space.”
~ Orhan Pamuk

Related Posts

X