Destinasi Kuliner

Jelajah Restoran Nusa Gastronomy

Diantara hadirnya kuliner fusion atau makanan dari negara lain, Nusa Indonesian Gastronomy muncul dengan gaya berbeda.

Adalah sebuah restoran yang menghidangkan citarasa kuliner Nusantara otentik, yang disuguhkan bergaya kontemporer.  Sebuah konsep yang ditujukkan untuk lebih menarik minat pecinta kuliner di Indonesia, khususnya kaum urban di Jakarta.

Pertama mengunjungi suatu restoran atau rumah makan yang pasti akan ditenggok ialah desain dan arsitektur bangunannya. Menapakkan kaki di depan restoran ini, terlihat rumah putih dengan pilar kokoh yang dibangun puluhan tahun lalu. Saat masuk ke dalamnya, kita akan merasakan suasana klasik berbaur modern dan dendang lagu-lagu tradisional.  Ambience restoran berlokasi di kawasan Kemang ini, sudah terbangun dari penataan furniture (buatan Indonesia) dan lighting yang memberikan kenyamanan. Ditambah dinding ber-rak tinggi yang menggelar buku-buku masakan, dan di ruang tengah, pengunjung bisa melihat jejeran rempah-rempah Nusantara di dalam toples tinggi.

            Desain perpaduan klasik dan modern seolah menggambarkan hidangan yang disajikan. Setiap penyajian memiliki satu set menu yang terdiri dari 8 sampai 9 jenis makanan. Konsep menu set sengaja ditampilkan berbagai menu agar para tamu bisa mencicipi makanan dari barat sampai ke timur, selatan sampai ke utara Indonesia.

Nusa Indonesian Gastronomy. Image by: TE/SN

Saya dan kedua teman, berkesempatan mencicipi menu set dinner yang dinamakan “Amuse bouche”. Pertama kali yang disuguhkan adalah minuman Wedang telang. Berupa bunga telang yang diambil warnanya, kemudian dicampur lemon grass, gula batu, kayu secang, dan nanas madu. Zaman dulu kala, minuman herbal ini biasa disuguhkan di keraton atau kerajaan. Jika sekarang disebut Wedang telang, dulunya dinamakan Wedang secang – sebelum abad ke-19, tanaman teh kurang berkembang di Jawa sehingga tidak ada bunga teh telang dalam ingredients-nya.

Wedang Telang, Nusa Indonesian Gastronomy, Image by: TE/SN

Seperti biasa set menu selalu hadir dengan urutan: appetizer, main course, dan dessert. Yang pertama muncul di depan mata adalah sajian tiga jenis makanan yang ditampilkan di atas batu. Disantap secara urut: pertama, gado-gado mini dengan emping melinjo dan telur ayam kampung muda ; kedua,  Pulomendeti atau rendang yang diletakkan di atas sendok – menggunakan  daging sapi bali yang dimasak selama empat jam – disuguhkan bersama beras ketan (pulitan) dari Sulawesi Selatan; dan terakhir, Sala lauak khas Pariangan, Sumatera Barat yang terbuat dari tepung beras organik Jawa Barat dan dipresentasikan bersama sambal balado tradisional.

            Menu appetizer berikutnya: Telur ikan sambal kecombrang. Menggunakan telur ikan tuna yang berasal dari Laut Bitung, sambal kecombrang khas Bali, dan buah naga yang memerahkan telur ikannya. Selanjutnya, ada dua sup yang bahan-bahan dan penyajiannya sangat unik dan tidak biasa.

Telur Ikan Sambal Kecombrang. Image by: TE/SN

Lodeh tempe pelawan. Awalnya, tersaji hanya sebuah mangkuk berisi tempe berwarna hitam. Lalu, waiter menuangkan kuah lodeh-nya. Dinamakan Lodeh Tempe Pelawan, sebab di atas tempenya terdapat Kulat pelawan (jamur) yang tumbuh dua kali setahun dan hanya ada di Pulau Bangka. Jamur ini tidak akan tumbuh jika tidak ada hujan dan petir yang mengenai tubuhnya, juga bila tidak ada panas keesokan harinya. Sedangkan, tempenya terbuat dari kedelai asal Jawa Barat.  Dan, kuah lodeh-nya di-blend dan bentuknya diubah menjadi foam yang terbuat dari asam jingga –  disajikan di atas kuahnya tetesan chili oil yang menambah sensasi makan.

            Ikan asap kuah pindang. Lagi, ditampilkan secara unik dan menarik – seperti bentuk jelly. Tak lama, seorang waiter membakar jelly tersebut sehingga aroma makanan menyeruak dan membuat ingin segera mencicipinya. Bahan-bahan yang digunakan adalah ikan gindara asal Kendari, Sulawesi Tenggara. Dan, kuahnya terbuat dari kecap manis khas Tangerang Banten, pun Chef Ragil memperolehnya langsung dari pembuat beretnis Tionghoa – yang memproduksinya  turun-menurun. Disuguhkan dengan dua macam nasi: nasi putih yang berasal dari beras Solok, Sumatera Barat, dan beras hitam Adan krayan dari suku pedalaman Kalimantan Utara.

Ikan Asap Kuah Pindang, Nusa Indonesian Gastronomy. Image by: TE/SN

Gelora sensorik tidak berhenti di situ saja. Menu utama hadir secara bergiliran, ayam Besengek dan lidah sate Padang. Ayam besengek merupakan makanan khas Wonogiri, Jawa Timur. Namun, dimasak selama lebih 6 jam dengan suhu 60 derajat yang menggunakan teknik masak supit. Dihidangkan bersama  daun pakis paku, kelapa muda, dan kentang yang tampak highlight karena dibubuhkan cabe Jawa. Sedangkan, lidah sate Padang, menggunakan lidah sapi bali yang disajikan dengan saus padang, keripik balado cassava, dan buras khas Makassar.

Restaurant Nusa Gastronomy, Kemang, Jakarta - Chef Ragil - www.indoepic.com
Ayam Besengek, Restaurant Nusa Indonesian Gastronomy. Image by: TE/SN

Terakhir, dessert: Martabak manis kreasi chef Ragil yang rasanya seperti orang sedang jatuh cinta. Silahkan membayangkannya dengan melihat bahan-bahan yang dikomposisikan secara pas. Yaitu kacang mete asal Ternate, ganache coklat asal Flores, gouda cheese dari Yogyakarta berusia satu tahun. Disajikan bersama  martabak tortilla berbentuk short bun sponge dan lelehan coklat dari Pidi, Aceh.

Martabak Manis, Nusa Indonesian Gastronomy. Image by: TE/SN

Sampai di sini, pasti pembaca bertanya dari mana saya tahu semua bahan-bahan, cara masak, dan selintas ceritanya. Jadi, saat waiter menyajikan setiap makanan, ia akan bercerita tentang makanan tersebut – langsung  di depan tamu. Jika diperhatikan, setiap makanan,  kita akan menemukan bahan-bahan yang berbeda asalnya. Nusa Indonesian Gastronomy memang meramu menu-menunya dengan mengangkat kecerdasan kolektif atau keunggulan lokal setiap daerah Nusantara.

Nusa Indonesian Gastronomy. Image by: TE/SN

Semua yang tersaji, diracik tanpa menghilangkan esensinya. “Di Nusa, sebisa mungkin, kami mengkreasikan makanan lebih enak dari aslinya. Yang penting makanan harus enak dan otentik,” ucap chef Ragil. Presentasi dan asal bahan-bahan yang berbeda, itu memang tujuan Nusa Indonesian Gastronomy. Hingga para tamu bisa menikmati makanan dari sisi sebelah barat sampai ke timur, selatan ke utara. Maka, “Nusa Edible of Indonesia” menjadi tagline restoran Nusa Indonesian Gastronomy. Dinamakan “Nusa” karena berasal dari singkatan Nusantara.

            Research  dan development yang dilakukan chef Ragil dan tim pada setiap kreasinya, salah satunya, langsung mengunjungi daerah-daerah. Menyelusurinya dari resep, pengolahan, budaya, sampai agronominya. Dan, menjumpai petani, penduduk asli, atau datang ke pasar tradisional merupakan prioritas. Sebab, dari mereka, chef Ragil dan kawan-kawan, bisa menemukan makanan, bahan-bahan atau rempah-rempah yang masih belum diketahui orang kebanyakan.

Chef Ragil

            Local genius diangkat oleh chef Ragil agar para tamunya datang tidak sekadar makan enak tapi juga bisa mengenali sumber daya alam dan sejarah kuliner negerinya sendiri. Setiap dua bulan sekali, chef dan tim akan mengganti menunya. Malah bisa juga setiap harinya, tergantung dari ketersediaan bahan-bahan. Hal ini menjadikan Nusa Indonesian Gastronomy sebagai restoran yang menarik, unik, berinovasi, dan otentik dengan memberikan wawasan luas pada lidah kita. … a must try ….

“The preparation of good food is merely another expression of art, one of the joys of civilized living.” ~ Dione Lucas

Related Posts

Leave a Reply

X