Destinasi Budaya

Pesona dari Timur Indonesia: Sejarah dan Budaya Suku Sasak

Eksotika dari timur itulah yang melekat ketika traveler berkunjung di pulau  Lombok.  Penduduk Pulau Lombok berjumlah sekitar 3 juta jiwa, 80%-nya penduduk asli Suku Sasak.

Sejarah Lombok tidak lepas dari silih bergantinya penguasaan dan peperangan yang terjadi dalam konflik internal (perang antarkerajaan di Lombok), maupun ekternal yaitu penguasaan dari kerajaan di luar pulau Lombok. Perkembangan era Hindu dan Buddha memunculkan beberapa kerajaan seperti Selaparang Hindu dan Bayan. Dua kerajaan tersebut dalam perjalannya ditundukkan oleh Kerajaan Majapahit saat ekspedisi Gajah Mada pada abad XIII – XIV dan penguasaan kerajaan Gel – Gel dari Bali abad VI.

Antara Jawa, Bali, dan Lombok mempunyai beberapa kesamaan budaya seperti dalam bahasa dan tulisan. Jika di telusuri asal – usul mereka banyak berakar dari Hindu Jawa. Hal itu tidak lepas dari pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit yang kemungkinan mengirimkan anggota keluarganya untuk memerintah atau membangun kerajaan di Lombok. Pengaruh Bali dalam kebudayaan Lombok hal tersebut tidak lepas dari ekspansi yang dilakukan oleh kerajaan Bali sekitar tahun 1740 di bagian barat pulau Lombok dalam waktu yang cukup lama. Sehingga banyak terjadi akulturasi antara budaya lokal dengan kebudayaan kaum pendatang.

            Suku Sasak, Tahun 1911. Image by: Lihat profilnya di sini



Lombok Mirah Sasak Adi adalah salah satu kutipan dari kita Negarakertagama, sebuah kitab yang memuat tentang kekuasaan dan pemerintahaan Kerajaan Majapahit. Kata Lombok dalam bahasa kawi berarti lurus atau jujur, kata mirah berarti permata, kata sasak berarti kenyataan, dan kata adi artinya yang baik atau yang utama. Maka arti keseluruhannya yaitu kejujuran adalah permata kenyataan yang baik atau utama. Makna filosofi itulah mungkin yang selalu diidamkan leluhur penghuni tanah Lombok yang tercipta sebagai bentuk kearifan lokal yang harus dijaga dan dilestarikan oleh anak cucunya.

Bukti lain juga menyatakan bahwa berdasarkan prasasti tong – tong yang ditemukan di Pujungan, Bali, Suku Sasak sudah menghuni pulau Lombok sejak abad IX sampai XI Masehi. Kata Sasak pada prasasti tersebut mengacu tempat suku bangsa atau penduduk, seperti kebiasaan orang Bali – sampai saat ini sering menyebut pulau Lombok dengan gumi sasak yang berarti tanah, bumi, atau pulau tempat bermukimnya orang Sasak.

Suku Sasak temasuk dalam ras tipe Melayu yang konon telah tinggal di Lombok selama 2.000 tahun lalu dan diperkirakan telah menduduki daerah pesisir pantai sejak 4.000 tahun. Dengan demikian perdagangan antar pulau sudah aktif sejak zaman tersebut dan bersamaan dengan itu saling mempengaruhi antarbudaya juga telah menyebar.

Suku Sasak Lombok, Destinasi Budaya Nusa Tenggara Barat. By: www.indoepic.com
Penulis & Warga Suku Sasak Lombok, Destinasi Budaya Nusa Tenggara Barat.

Mayoritas etnis Sasak beragama Islam, namun demikian dalam kenyataanya pengaruh Islam juga berakulturasi dengan kepercayaan lokal sehingga terbentuk aliran seperti wektu telu, jika dianalogikan seperti abangan di Jawa. Pada saat ini keberadaan wektu telu sudah kurang mendapat tempat karena tidak sesuai dengan syariat Islam. Pengaruh Islam yang kuat menggeser kekuasaan Hindu di pulau Lombok. Hingga saat ini dapat dilihat keberadaannya hanya di bagian barat pulau Lombok, di kota Mataram.

Dalam hal penyebaran agama islam, mula-mula peranan para sufi sangat menentukan, juga para pedagang yang berasal dari Gujarat, India. Para sufi itu datang dari Pulau Jawa yang banyak membawa pengaruh dari Wali Songo. Kemudian menyusul dari ajaran-ajaran tarekat Syaikh Yusu Makassar, dan lainnya. Dari sumber ajaran Syaikh Yusuf, ada yang diterima langsung pada saat beliau berada di Banten atau dari para pengikut pengikutnya di Nusantara. Sedangkan dari syaikh yang lain diterima langsung di Makkah saat para tuan guru dari Lombok, melaksanakan ibadah haji dan bermukim di sana beberapa tahun untuk memperdalam ilmunya. Para Sufi yang menyebarkan Islam yang berasal dari pengaruh Wali Songo meninggalkan kelompok masyarakat yang kemudian disebut Wektu Telu (Waktu Tiga) untuk membedakannya dengan yang lain, yang telah mengalami proses Islamisasi, yaitu Islam Waktu Lima.

Rumah Suku Sasak, Lombok. Destinasi Budya Nusa Tenggara Barat. By www.indoepic.com
Rumah Suku Sasak, Lombok.

Masyarakat Suku Sasak juga memiliki bentuk bangunan rumah yang unik yang terbagi menjadi 3 tipe menurut penggunaannya yaitu Bale Bonter, Bale Kodong, dan Bale Tani.  Bale Bonter, rumah yang dimiliki oleh pejabat desa. Sementara Bale Kodong untuk warga yang baru menikah atau orang tua untuk menghabiskan masa tua. Dan Bale Tani digunakan sebagai tempat tinggal mereka yang berkeluarga dan memiliki keturunan. Bale Tani ini terbuat dari kayu dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan beratapkan daun alang – alang kering.

Bale Tani terbagi menjadi dua bagian yaitu Bale Dalam dan Bale Luar. Ruangan Bale Dalam biasanya digunakan untuk anggota keluarga wanita, sekaligus merangkap sebagai dapur. Sedangkan Bale Luar diperuntukkan untuk anggota keluarga lainnya, dan juga berfungsi sebagai ruang tamu. Antara Bale Dalam dan Bale Luar ini dipisahkan dengan pintu geser dan anak tangga. Di dalam ruangan Bale Dalam ini, terdapat dua buah tungku yang menyatu dengan lantai terbuat dari tanah liat yang digunakan untuk memasak. Masyarakat di perkampungan Desa Sade Lombok ini biasanya memasak dengan menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya. Bale Dalam tidak memiliki jendela, hanya ada satu buah pintu sebagai jalan untuk keluar-masuk yang terletak di bagian depan Bale.

Selain Bale Tani dan Lumbung, masih ada lagi bangunan yang menjadi bangunan khas Sasak. Bangunan ini sering disebut dengan BerugakBerugak adalah sebuah bangunan panggung berbentuk segi empat yang tidak memiliki dinding, tiangnya terbuat dari bambu beratap alang-alang, dan disangga oleh empat tiang (sekepat), atau enam tiang (sekenem). Berugak berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu, dan juga biasa digunakan sebagai tempat untuk berkumpul, serta bersantai selepas bekerja atau sebagai tempat pertemuan internal keluarga. Biasanya Berugak terdapat di depan samping kiri atau samping kanan Bale Tani.

Bagian dalam dari setiap rumah di Suku Sasak ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian depan untuk tidur anak laki-laki dan orang tua. Sementara bagian kedua lebih tinggi 1 meter yang berisi dapur, lumbung, dan tempat tidur anak perempuan. Kemudian bagian terahir yaitu sebuah ruangan kecil yang digunakan untuk tempat melahirkan.

Keunikan lainnya terletak pada cara perawatannya. Sebelum di mulainya upacara adat, lantai rumah digosok dengan kotoran kerbau dicampur sedikit air. Setelah kering, lalu disapu dan digosok dengan batu. Penggunaan kotoran kerbau ini berfungsi untuk membersihkan lantai dari debu membuat lantai terasa halus dan lebih kuat. Masyarakat setempat percaya bahwa kotoran kerbau tersebut dapat mengusir serangga dan menangkal serangan magis yang ditujukan buat penghuni rumah.

Menenun - Suku Sasak, Nusa Tenggara Barat
Menenun – Suku Sasak, Nusa Tenggara Barat. Image by: Lihat profilnya di sini

Mata pencaharian penduduknya bertani dan menenun. Menenun adalah pekerjaan sambilan kaum wanita, setelah selesai bekerja di sawah. Mereka menenun mengunakan alat tenun tradisional yang sangat sederhana. Hasil tenunan mereka berbentuk: taplak meja, kain sarung, kain songket, selendang, dan lain-lain.

Selain itu, cara memasak Masyarakat Suku Sasak ini masih sangat sederhana menggunakan tungku dan kayu bakar.

Tingkat pendidikan Masyarakat Suku Sasak masih terbilang rendah, hal ini karena menurut  pemandu wisata lokal, pendidikan untuk kaum laki-laki diperbolehkan hanya sampai tahap SMA dan tidak boleh melanjutkan kuliah lantaran sangat jauh jaraknya. Dan kaum wanita hanya boleh sampai tingkat SD, yang penting sudah bisa membaca dan menulis sehingga nanti bisa mengajarkan kepada anak-anaknya nanti, dan harus selalu menenun untuk menjaga tradisi dan budaya masyarakat Sasak.

Sementara adat istiadat Masyarakat Suku Sasak dapat traveler saksikan saat resepsi perkawinan, di mana perempuan apabila mereka mau dinikahkani, maka calon pengantin perempuan harus dilarikan dulu ke rumah keluarganya dari pihak laki laki. Prosesi ini dikenal dengan sebutan merarik atau pelarian. Caranya cukup sederhana, gadis pujaan itu tidak perlu memberitahukan kepada kedua orang tuanya. Bila ingin menikah, gadis itu dibawa. Namun jangan lupa aturan, mencuri gadis dan melarikannya biasanya dilakukan dengan membawa beberapa orang kerabat atau teman. Selain sebagai saksi kerabat yang dibawa untuk mencuri gadis itu sekaligus sebagai pengiring dalam prosesi itu.

  Pengantin Suku Sasak, Nusa Tenggara Barat. Image by: Lihat profilnya di sini

Gadis itu tidak boleh dibawa langsung ke rumah calon pengantin pria, harus dititipkan ke kerabat laki-laki calon pengantin wanita.Tentu menikahi gadis dengan meminta izin kepada orang tuanya (redaq), lebih terhormat daripada mencuri gadis tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Namun proses ini sudah sangat jarang ditemukan, sebab kebiasaan orang Sasak lebih dominan mencurinya, supaya tidak terhambat oleh hal-hal yang tidak diinginkan, seperti tidak disetujui orang tua gadis atau keterbatasan kemampuan dalam hal materi . Proses redaq biasanya menghabiskan biaya yang lebih besar dibandingkan melarikan gadis (merarik) tanpa izin.

Dalam proses pencurian gadis, setelah sehari menginap pihak kerabat laki-laki mengirim utusan ke pihak keluarga perempuan sebagai pemberitahuan bahwa anak gadisnya dicuri dan kini berada di satu tempat. Tapi tempat menyembunyikan gadis itu dirahasiakan, tidak boleh diketahui keluarga perempuan. Nyelabar, istilah bahasa setempat untuk pemberitahuan itu, dan dilakukan oleh kerabat pihak lelaki, namun orang tua pihak lelaki tidak diperbolehkan ikut.

Rombongan nyelabar terdiri lebih dari 5 orang dan wajib mengenakan berpakaian adat. Rombongan tidak boleh langsung datang ke rumah keluarga wanita. Harus terlebih dahulu meminta izin pada kliang atau tetua adat setempat. Untuk sekedar penghormatan kepada kliang. Datang pun ada aturan rombongan tidak diperkenankan masuk ke rumah pihak gadis. Mereka duduk bersila di halaman depan, satu utusan dari rombongan itu yang nantinya sebagai juru bicara menyampaikan pemberitahuan.

Penulis dan Foto: Fauziah Kurniati

Foto cover: Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia


“As the traveler who has once been from home is wiser than he who has never left his own doorstep, so a knowledge of one other culture should sharpen our ability to scrutinize more steadily, to appreciate more lovingly, our own.”  — Margaret  Mead

Related Posts

Leave a Reply

X