Desa Wisata

Nglanggeran, Desa Wisata Terbaik, Kebanggaan Gunung Kidul

Penduduk Desa Nglanggeran saat ini bangga mengenalkan identitasnya sebagai orang Gunung Kidul. Potensi yang ada pada Desa Nglanggeran, kini makin berkembang. Gunung Kidul yang dulu dikenal dengan wilayah yang tandus, sulit air dan memiliki sumber daya manusia yang tertinggal, sekarang berubah menjadi desa memesona berprestasi.

Asal Mula Nama Nglanggeran

Nama Nglanggeran berasal dari kata planggaran, yang bermakna: setiap ada perilaku jahat pasti ketahuan. Ada yang menuturkan Gunung Nglanggeran berasal dari kata langgeng yang berarti desa aman dan tentram. Ada pula yang menyebut gunung yang tersusun dari banyak berbatuan ini dengan sebutan Gunung Wayang, hal tersebut dikarenakan terdapat gunung/berbatuan yang menyerupai tokoh pewayangan. Masyarakat sekitar meyakini bahwa Gunung Nglanggeran dijaga oleh Ki Ongko Wijoyo dan Punokawan.

Desa Wisata Nglanggeran – Photo: Pelita Desa

Potensi Desa Menyatukan Masyarakat

Di Desa Wisata Nglanggeran, rumah penduduk dijadikan home stay dan jumlahnya lebih dari 100. Rumah-rumah diatur sedemikian rupa supaya memikat wisatawan, bahkan hewan ternak sengaja ditempatkan di depan rumah. Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba dan Desa Wisata Nglanggeran pun dikelola oleh pemuda dan pemudi karang taruna beserta masyarakat. Dan Sugeng Handoko adalah sosok di balik pengembangan desa ini.

Pengembangan Desa Nglanggeran berawal dari masalah lingkungan. Banyak penduduk yang mengambil batu atau pohon dari situs gunung api purba untuk kegiatan ekonomi. Tak hanya itu, SDM yang ada pun makin berkurang, karena tingginya tingkat urbanisasi. Para anak muda banyak yang lebih memilih bekerja di kota lain atau luar negeri sehingga yang tersisa hanyalah anak-anak sekolah dan orang tua berusia lanjut.

Di tahun 1999, fasilitas desa ini belum lengkap, dikelola Karang Taruna Bukit Putra Mandiri tarif yang dikenakan sebesar Rp500/orang. Ketika terjadi gempa Jogja pada tahun 2006, keadaan tersebut membuat para masyarakat bersatu untuk mengembangkan potensi desa mereka. Duka mereka saat itu menimbulkan rasa saling memiliki karena persamaan nasib. Melihat banyaknya potensi budaya dan ekowisata di situs gunung api purba, tahun 2008 Badan Pengelola Desa Wisata Nglanggeran mengambil alih pengelolaannya, lalu fasilitas pun semakin bertambah.

Desa Wisata Nglanggeran – Photo: Pedoman Wisata

Salah satu cara pengembangan Desa Nglanggeran yaitu dengan membuat marga Purba. Hal itu dilakukan karena di Nglanggeran seluas 40 hektar terdapat gunung api purba. Penduduk yang memiliki media sosial diberi tambahan nama belakang Purba. Dalam perkembangannya desa ini membudidayakan kakao untuk dijadikan cokelat dan dodol.

Di sana juga tersedia embung, tanaman durian dan kelengkeng yang dijadikan agrowisata. Tahun 2017, Desa Nglanggeran mendapat penghargaan sebagai Desa Wisata Terbaik 1 Indonesia dan penghargaan ASEAN Community Based Tourism. Penghargaan terus bertambah, tahun 2018 desa ini meraih ASEAN Sustainable Tourism Award.

Embung Nglanggeran – Photo: Kaki Merapi 182

Tiga Objek Wisata Alam

Cara asyik menikmati objek wisata Desa Nglanggeran yaitu dengan jalan kaki atau naik motor. Namun saat pergi sedikit ke luar desa baiknya menggunakan sepeda motor. Desa Nglanggeran memiliki tiga objek wisata yaitu gunung api purba, embung besar dan air terjun kedung kandang. Gunung api purba merupakan gunung batu dari karst atau kapur. Gunung ini adalah jajaran gunung batu yang unik. Gunung tersebut pernah aktif jutaan tahun yang lalu. Luas kawasan pegunungan mencapai 48 hektar. Puncaknya adalah Gunung Gedhe dengan ketinggian sekitar 700 meter dari permukaan laut.

Untuk mencapai puncak gunung dengan pemandangan indah, kamu harus mendaki selama 1.5 hingga 2 jam. Sedangkan embung adalah bangunan berupa kolam seperti telaga di ketinggian sekitar 500 mdpl, luasnya sekitar 5.000 meter persegi. Fungsi embung ini adalah menampung air hujan untuk mengairi kebun buah kelengkeng, durian dan rambutan di sekelilingnya. Air yang tertampung sangat bermanfaat ketika musim kemarau tiba, air digunakan untuk mengairi sawah. Kamu bisa naik ke embung melalui tangga.

Di sisi embung akan terlihat matahari terbenam yang indah. Kamu pun bisa melihat gunung api purba di seberangnya. Terakhir, ada air terjun kedung kendang yang menawan. Air terjun ini airnya menetes ke sebuah bukit bergerigi yang dikelilingi oleh padang hijau rimbun. Masyarakat setempat mengatakan bahwa ketika hujan turun pada malam sebelumnya, pasti keesokan harinya air terjun ini akan makin bertambah keindahannya. Kalau kamu tidak mau bermain basah-basahan, ada jembatan bambu yang bisa kamu singgahi untuk melihat pemandangan sekitar.

Gunung Purba Nglanggeran – Photo: Gunung Api Purba

Fasilitas Desa Nglanggeran

Di Desa Nglanggeran kamu dapat berinteraksi dengan warga sambil belajar budaya setempat. Beberapa kegiatan bakal bikin pengalaman kamu tak terlupakan, seperti: membatik topeng, membuat kerajinan janur (daun kelapa muda), belajar tari tradisional Jathilan dan Reog, ikut kenduri, menangkap dan melepas ikan di sungai, menanam padi di sawah dan belajar memasak kuliner desa ini. Satu lagi yang seru, kamu bisa menikmati rock climbing dengan 28 jalur.

Kalau ingin menginap di sini semalam, tarifnya sebesar Rp100.000/orang, sedangkan untuk pelajar Rp60.000. Jika ingin bermain flying fox atau mendaki gunung kamu harus membayar lagi. Selain itu, ada pula paket permainan, tracking (minimal 3 orang) dengan tarif Rp25.000/orang atau outbond (minimal 5 orang) yang tarifnya Rp75.000/orang. Bagi yang ingin live in, ada paket untuk pelajar (minimal 40 siswa), kalau dua hari semalam tarifnya Rp320.000/orang, kalau enam hari lima malam tarifnya Rp800.000/orang. Paket tersebut meliputi penginapan, belajar membuat topeng, karawitan, menari dan berkegiatan dengan warga.

Desa wisata ini beralamat di Dusun Kalisong, Desa Nglanggeran, Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55862. Lokasinya berjarak 22 km dari Wonosari, ibu kota Kabupaten Gunung Kidul, atau 25 km dari Yogyakarta. Menurut kami, sebaiknya kamu menggunakan kendaraan pribadi atau mobil sewa untuk menuju ke sini.

Penulis: Oase Kirana Bintang

Photo Cover Artikel: Pedoman Wisata

“It’s better to travel well than to arrive” ~ Buddha

Related Posts

X