Destinasi Wisata

Padang Mangateh, Peternakan Terluas se-Asia Tenggara Menjadi Pusat Agrowisata

Beberapa bulan lalu di Instagram, saya sering melihat postingan suatu tempat padang luas yang tampak gerombolan sapi sedang menikmati makanan siangnya. Setiap kali melihatnya, saya langsung teringat kampung halaman di Payakumbuh, dan di sana ada Padang Mangateh yang memiliki luas sekitar 280 hektar dan terhampar kesejukan dan ketenangan.

Sering orang bilang Padang Mangateh mirip dengan Desa Hobbiton, Matamata, North Island, New Zealand. Hal inilah yang menjadikan Padang Mangateh sering disandingkan dengan New Zealand oleh wisatawan yang telah berkunjung ke Padang Mangateh.  Saya sendiri sebagai orang asli Payakumbuh hanya terbelalak membaca sebutan tersebut. Entah itu berlebihan atau tidak, atau budaya masyarakat kita yang masih senang membandingkan segala sesuatu dengan dunia luar, hingga apa pun yang ada di negeri ini selalu dicari perbandingannya.

Padang Mangateh memang memiliki lanskap luas dan indah. Letaknya diapit bebukitan yang bernama Bukit Barisan dan berada di kawasan dekat lembah Gunung Sago. Padang Mangateh ini secara tidak langsung menawarkan keindahan yang jarang kita temukan di Indonesia. Mungkin keindahan seperti ini banyak terdapat di New Zealand, makanya banyak disepadankan dengan negara yang berada di kawasan seberang laut Tasman tersebut.

Padang Mangateh. Image by : Lihat Di Sini

Sejarah awal tentang Padang Mangateh ini menurut penduduk setempat adalah tempat pengembangbiakan kuda yang dikelola oleh pemerintah Hindia-Belanda, jauh sebelum Indonesia merdeka tepatnya pada tahun 1916. “Sekitar 29 tahun sebelum kemerdekaan,” ucap tetua adat di daerah sana saat bercerita di lapau kopi, tak jauh dari tempat itu.

Luas padang rumput beralih fungsi menjadi tempat peternakan sapi pada tahun 1935 – 10 tahun sebelum Indonesia merdeka. Pada saat itu sapi-sapi yang diternakan didatangkan dari India oleh Pemerintah Belanda, namun periode awal peternakan ini gagal sehingga sempat ditutup dan kembali dibuka pada tahun 1950 oleh Pemerintah Indonesia. Sekarang menjadi tempat pengembangbiakan sapi terluas se-Asia Tenggara.


“… dan kemudian, aku punya alam, seni dan puisi, dan jika itu tidak cukup, apa lagi yang lebih cukup daripada itu?”

Mengingat Padang Mangateh seperti menyelaraskan pikiran saya dengan apa yang pernah diucapkan Vincent van Gogh melalui kutipannya. Alam yang indah adalah serupa seni (lukisan) yang diciptakan tuhan bahkan jauh sebelum Adam diturunkan ke muka Bumi ini, dan cara terbaik adalah dengan mensyukuri keindahan yang diciptakan-Nya. Bagi saya, caranya dengan merawat dan menjaga kebersihan tempat tersebut.

Padang Mangateh - www.indoepic.com -destinasi sumatera barat
Padang Mangateh. Image by: Lihat Di Sini

Wisata Edukasi

Padang Mangateh tidak hanya hamparan pemandangan indah, tapi pengunjung juga bisa mendapatkan wisata edukasi. Pengunjung akan menyaksikan bagaimana pengembangbiakan sapi yang dikelola secara professional. Mereka dikembangbiakan dengan inseminasi buatan di mana spermanya langsung didatangkan khusus dari luar negeri. Traveler pun akan mengetahui bagaimana cara agar sapi tidak mengalami stres.

Padang Mangateh merupakan lahan pengembangbiakan sapi terluas se-Asia Tenggara dan dikelola oleh Kementerian Pertanian. Padang luas ini mampu menampung sekitar 2000 ekor sapi dari beberapa jenis sapi unggul, seperti: Sapi Pesisir, Simental, dan Limosin.

Berkunjung ke Padang Mangateh tidak perlu khawatir tersesat, sebab sudah tersedia petunjuk arah di setiap ruas sisi jalan. Jangan lupa mencicipi makanan Minang yang pedas namun membekas dalam ingatan, perjalanan bakal semakin mengasyikan.

Padang Mangateh ; www.indoepic.com
Padang Mangateh. Image by: Lihat di sini

Lokasi Padang Mangateh

Padang Mangateh terletak di Jl. Padang Mengatas, Desa Mungo, Kecamatan Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Berjarak 9 kilometer dari kota Payakumbuh lewat Jl. Moh. Yamin dan Jl. Raya Payakumbuh – Lintau.

Dan bagi keluarga atau rombongan yang ingin bermalam di Padang Mangateh, tersedia penginapan yang bisa disewa dari pihak pengelola Padang Mangateh.

Kapan lagi menikmati ketenangan dan kesejukan yang masih sangat hijau, ditambah keindahan sawah yang masih asri selama perjalan menuju padang rumput tersebut. Kapan lagi?

Ditulis oleh: Hendra Mahyudhy

Foto cover: Robby Fadli Anggara


“Wandering re-establishes the original harmony which once existed between man and the universe.”  — Anatole  Franc

Related Posts

Leave a Reply

X