Destinasi Wisata

Perjamuan Rempah di Kali Besar (Edisi Kota Tua Jakarta)

Artikel ini lanjutan dari Perjamuan Rempah di Museum Fatahillah & Museum Wayang [Edisi: Kota Tua Jakarta]. Kami akan meneruskan penelusuran siapa pembunuh J.P. Coen dan kisah Kali Besar.

Ada yang bilang Keumala Hayati atau Laksamana Malahayati-lah yang memenggal kepala Jan Pieterszoon Coen. Laksamana Malahayati, pahlawan Nasional asal Aceh, meninggal dunia pada tahun 1606 saat berjuang melawan armada Portugis yang dipimpin Alfonso de Castro. Sedangkan J.P. Coen masih berkeliaran di Batavia tahun 1609. Sebelum itu, Keumala Hayati berhasil menghilangkan nyawa Cornelis de Houtman pada tahun 1600. Berarti J.P. Coen mati bukan di tangan beliau.

Lalu, apakah benar Nyimas Utari Sandijayaningsih, telik sandi suruhan Kerajaan Mataram yang berhasil memenggal kepala J.P. Coen di tahun 1629? Keberadaan jasad atau tulang belulang J.P. Coen pun tidak ditemukan di area Museum Wayang – tidak seperti yang dikatakan pemandu Museum Wayang – sama halnya dengan arkeolog Belanda, Chandrian Attahiyyat, yang melakukan penggalian tahun 1939 dan tidak menemukan jasad J.P. Coen di Museum Wayang.

J.P. Coen – Image: Wikipedia

Gilles Milton dalam bukunya Pulau Run menceritakan bahwa J.P. Coen meninggal dunia karena terserang kolera saat akan kembali ke Belanda – berdasarkan catatan jurnal beberapa armada Belanda yang diteliti.

Dalam kisah pasukan Dom Sumuruping Mbanyu dari Mataram (Babad Tanah Jawi) yang salah satu pasukannya adalah Nyimas Utari Sandijayaningsih, ia telah berhasil membunuh istri dan anak J.P. Coen, kemudian J.P. Coen dengan memenggal kepalanya. Kemudian Mahmuddin, Wong Agung Aceh, suami Nyimas Utari Sandijayaningsih membawa kepala J.P. Coen secara estafet dari benteng VOC di Batavia ke Mataram atas perintah Sultan Agung.

Kedua versi tersebut masih menjadi pro dan kontra, belum ada fakta yang kuat bisa membuktikan, begitu pula belum adanya penelitian di area pemakaman Sultan Agung, Pemakaman Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Sultan Agung menyuruh pasukan Mataram untuk mengawetkan, lalu menguburkan kepala J.P. Coen di baris ke-716 tangga Pemakaman Imogiri.

Ada yang perlu diketahui sebelum J.P. Coen meninggal dunia, pasukan Kerajaan Mataram menyerang VOC dengan 2 kali serangan: serangan pertama pada bulan Oktober 1629 dengan membawa 10.000 pasukan; serangan kedua pada tanggal 10 Juni 1629 (14.000 pasukan), 8 September 1629, dan 20 September 1629. Semua serangan pasukan Kerajaan Mataram mendapatkan kekalahan dan banyak pasukan menjadi tawanan VOC.

Pemenggalan Kepala – Image diambil dari Museum fatahillah

Meski begitu pasukan VOC sempat mengalami kewalahan menghadapi pasukan Mataram karena kehabisan amunisi peluru. Kemudian pasukan VOC melempar kotoran manusia sebagai pengganti senjata, ide ini berasal dari Sersan Hans Madeliijn, sehingga pasukan Mataram lari dan mengumpat, “Syetanggg …” (baca: setannn). Serangan tersebut berlokasi di menara pertahanan kecil yang dikenal Redoubt Hollandia, lalu pasukan Mataram menyebut wilayah itu sebagai “Kota Tahi”. Menurut ahli sejarah Adolf Heuken SJ, Kota Tahi adalah sebuah kampung yang terletak di Jalan Pinangsia Timur (dekat dengan Glodok Plaza). Namun pada abad ke-19 kampung Kota Tahi sudah tidak ada, entah apa penyebabnya.

Sejarah ratusan tahun lalu memang tidak mudah ditelusuri, bahkan peneliti maupun penulis sejarah kadang belum tentu bisa dipastikan kebenarannya. Terlebih naskah kuno dan kisah-kisah dalam babad yang banyak mengandung metafora dan dongeng. Namun, intisari dari sejarah adalah pembelajaran bagi umat manusia yang hidup di masa kini dan masa depan. Pemenggalan kepala pun bukan hanya dilakukan oleh pasukan kerajaan atau pasukan penjajah pada masa itu, tapi telah ada sebelumnya dan dilakukan oleh berbagai suku di Nusantara, bahkan terjadi di era modern, contohnya peristiwa Sampit.

Pemenggalan kepala memang terdengar sadis, tapi diyakini bahwa orang yang dipenggal tersebut tidak merasakan sakit akan kematiannya, suatu cara mati yang memudahkan dan barangkali dianggap pembunuhan yang bijak. Sejarah pun berulang, kekuasaan, dendam, keyakinan, bahkan urusan percintaan merupakan penyebab “peperangan” yang tertulis dalam peristiwa bersejarah ataupun hanya dalam ingatan manusia.

Kali Besar Kota Tua Jakarta – Image: Instagram @didikasim

Kali Besar Kota Tua Jakarta

Setiap tempat pasti punya kisah yang membangkitkan ingatan, baik itu yang indah maupun kelam. Melihat Kali Besar sekarang yang masih terdapat bangunan-bangunan tua, meninggalkan jejak peristiwa yang terasa bercerita dengan diam. Namun saksi-saksi sejarah berkisah tentang gaun-gaun indah yang dikenakan para mevrouw (nyonya) yang sering berjalan bersama para nyai. Pada abad ke-18 – 19 sering terlihat mereka menaiki perahu kecil yang bertengger dekat dari kediaman mereka, untuk sekadar mengunjungi rekan yang tak jauh tinggal di kawasan tersebut. Saat itu Kali Besar atau Groothegracht atau De Groote River menjadi kediaman pejabat VOC dan pedagang Tionghoa yang kaya. Juga terdapat pasar, gereja, rumah sakit, dan bengkel perahu.

Keindahan Kali Besar setelah direvitalisasi tidak berbeda dengan keindahan pada masa lampau yang dipenuhi romantisme. Dulu sering terlihat pasangan berjalan kaki di tepi tepian. Selain itu, lokasi yang berdekatan dengan pelabuhan Sunda Kelapa (sekitar 10 km) memudahkan para pedagang bertransaksi. Pun lokasinya tidak jauh dari tembok Batavia atau Kastil Batavia (sekarang berada di area Museum Bahari), pengganti Kastil Jacatra. Di dalam tembok inilah berdiri gudang di mana koloni dan pekerja menyimpan hasil rempah-rempah. Sehingga Kali Besar menjadi penghubung, pusat perdagangan sekaligus tempat singgah.

Kali Besar, Kota Tua Jakarta – Image: Dok Indoepic

Yang berada di dalam kota Batavia adalah kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa termasuk Balai Kota sampai arah selatan belokan Sungai Ciliwung (pada masa J.P. Coen) atau sekarang wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Di luar itu banyak yang menyebut “luar Batavia”. Pembagian pemukiman pun dipisah berdasarkan etnis (Jurnal Penelitian Balai Arkeologi Bandung, Nomor 5/Maret/1999): pemukiman Malabar di barat Balai Kota; Portugis bagian barat kota; Belanda di sekitar Balai Kota; etnis Tionghoa di kota bagian barat dan bagian depan; dan pemukiman Banda di bagian barat laut Balai Kota.

Namun pada tahun 1740 terjadilah Geger Pacinan yang diperkirakan menewaskan 10.000 etnis Tionghoa di dalam dan luar tembok kota Batavia. Peristiwa ini bermula adanya penembakan serdadu Belanda di kawasan Jatinegara dan Tanah Abang (arti: bumi merah), yang dilakukan pemberontak etnis Tionghoa terhadap VOC. Kejadian ini melebar sampai ke Kali Angke dan kota-kota (wilayah di luar Batavia) lain. Dan salah satu pembantaian terhadap etnis Tionghoa dilakukan di Kali Besar.

Kali Besar di Zaman Milennial

Meski pernah terjadi “peristiwa sejarah”, Kali besar sempat lama menjadi tempat yang dibiarkan begitu saja, nyaris terlupakan. Bangunan-bangunan tua yang tersisa memang masih berdiri, tapi seolah tidak bisa berbuat apa-apa. Jauh sebelum tahun 2016, muncullah kerisauan Budi Lim yang pernah mendapatkan penghargaan Indonesian Eisenhower Exchange Fellowship dan UNESCO Asia-Pacific Heritage Awards untuk konservasi Gedung Arsip Nasional dan De Driekleur, Bandung.

“Setiap pergi ke Kota Tua, saya merasa seperti anak durhaka yang sedang membiarkan orang tua yang sakit mati pelan-pelan, “ ucap Budi Lim – dikutip dari Kompas/04 April 2014.

Budi Lim, Image: Indonesia Design

Pada akhir tahun 1980, Budi Lim sudah membantu Pemrov DKI untuk menata lingkungan sepanjang Jalan Kali Besar, seperti membersihkan kawasan dari bangunan liar dan membebaskan dari aktivitas pelacuran. Program tersebut berlanjut sampai tahun 2004 – 2009, yaitu merevitalisasi luar Kota Tua sampai Taman Fatahillah. Yang kemudian tahun 2016, Budi Lim juga dipercaya oleh pemerintah untuk merancang (revitalisasi) Kali Besar.

Sebagai tempat elit penuh sejarah, Budi Lim merancang Kali Besar yang seluas 5 hektar menjadi taman yang bisa digunakan masyarakat berakitivitas sosial-budaya. Bangunan-bangunan tua yang masih ada dialihkan fungsi sebagai cafe, Museum 3D, food court, salah satu bangunan malah terdapat tempat pertunjukan wayang berbahasa Inggris untuk wisman, musala, mini klenteng, dan lain-lain. Jika pada tahun 1700-an – 1800-an banyak kereta kuda berseliweran di Kali Besar, penggantinya sekarang adalah delman dengan kusir yang mengenakan blankon. Selain itu banyak penjual jajanan makanan yang di sekitar tepi Kali Besar – yang juga terhubung dengan museum-museum sejarah di Kota Tua.

Kali Besar, Kota Tua Jakarta – Image: Dok IndoEpic

Berseberangan dari bangunan tua, pengunjung bisa melihat Toko Merah yang menjadi saksi sejarah, tahun 1992 bangunan ini menjadi bangunan cagar budaya. Tidak sedikit pengunjung atau fotografer yang memanfaatkan Toko Merah sebagai latar belakang foto.

Kali pun bukan hanya mempunyai fungsi sebagai tempat wisata, melainkan pengendali banjir dan filterisasi air jernih. Bahkan kayu-kayu di dalam kali merupakan bagian dari sistem perairan jaman Belanda. Revitalisasi Kali Besar dilakukan sejak tahun 2016 dan sampai saat ini belum rampung, tapi sudah bisa dinikmati wisatawan lokal maupun non-lokal.

Toko Merah, Kali Besar, Kota Tua Jakarta – Image: Dok IndoEpic

Rempah dan Perjalanan Kuliner Indonesia

Cengkeh dan pala, dua jenis rempah yang asli berasal dari Nusantara. Lada dan Kapulaga berasal dari India dan kayu manis dari Sri Langka. Kelima rempah tersebut hidup di bumi Nusantara dan mempunyai kualitas yang baik. Lima rempah ini pun telah digunakan bangsa-bangsa asing berabad-abad lamanya.

Kedatangan para pedagang asing yang terdiri dari ragam etnis ke Nusantara, selain untuk berdagang, mereka membawa budayanya masing-masing, termasuk kuliner. Makanan kari adalah salah satu contoh kuliner yang dibawa oleh pedagang India, kemudian muncullah rendang sebagai makanan yang terkenal di Indonesia sampai ke luar negeri. Selat Solo, kuliner yang hadir dari percampuran budaya Nusantara dan Belanda. Lunpia yang kerap dinikmati di Indonesia juga berasal dari akulturasi Nusantara dan Tionghoa. Dan masih banyak lagi.

Lunpia – Image: Dok IndoEpic

Keunggulan cita rasa rempah-rempah di lidah masyarakat dunia mengubah sosial dan budaya, juga politik. Namun, penambahan rempah pada setiap masakan yang memberikan kelezatan dan khasiat lainnya tidak menyatukan manusia pada masa sebelum abad ke-19. Bicara rempah mau tidak mau membicarakan politik dan kekuasaan.

Sebelum bangsa Eropa datang, Kerajaan Nusantara seperti Kerajaan Banten, Aceh, Mataram, berdagang rempah secara monopoli. Bahkan mereka tidak henti-henti memperluas daerah kekuasaan untuk mengeruk keuntungan, sampai terjadilah perang saudara. Jika membaca sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa bisa dilihat mereka masih satu trah. Hal inilah yang dijadikan ‘senjata’ bagi bangsa asing, seperti Belanda, Portugis, dan Inggris, untuk menguasai perdagangan dan pemerintahan di Nusantara.

Lada – Image: Pixabay

Sedangkan pada masa abad ke-17, rempah Nusantara mencapai puncak kejayaannya, lada menjadi komoditas dengan harga tertinggi dan paling dibutuhkan di dunia dibandingkan cengkih dan pala. Lada dianggap setara dengan emas. Sebelumnya, bangsa-bangsa asing berlabuh di Malabar untuk membeli rempah, kemudian pergeseran wilayah pembelian rempah bergeser ke Nusantara, sebab rempah-rempah khususnya lada dari Nusantara mempunyai kualitas yang baik.

J.P. Coen memberikan perhitungan jatah rempah-rempah yang dibutuhkan Eropa selama setahun:

Eropa membutuhkan lada sebanyak 7.000.000 pon; cengkih sebesar 490.000 pon; dan pala 450.000 pon – Surat J.P. Coen kepada Heeren Zeventien (petinggi VOC) pada tanggal 4 Maret 1621, sumber: Lada, Abad XVII Perebutan Emas Putih dan Hitam di Nusantara, P. Swantoro.

Sejarah atau peristiwa besar di Nusantara memang tidak seindah romantisme pasangan kekasih. Tapi sejarah masa lalu sebaiknya tidak dibiarkan menjadi debu. Sebab masa lalu, membuat kuliner Indonesia memiliki kekayaan ragam jenis dan cita rasa, kisah, dan filosofi. Yang semuanya merujuk bagaimana belajar menjadi manusia.

“If you don’t know history, then you don’t know anything. You are a leaf that doesn’t know it is part of a tree. ” ~ Michael Crichton

Related Posts

X