Destinasi Wisata

Pesona Banyuwangi dalam 24 Jam

Satu hari memang perjalanan singkat, tapi jangan ditolak bila ada yang mengajak kamu melakukan perjalanan hanya 24 jam saja. Sebab tidak ada perjalanan singkat maupun panjang yang tidak bisa dinikmati. Apalagi destinasi yang dituju adalah Banyuwangi yang memesona.

Sebelum perjalanan, saya kira 24 jam adalah waktu yang terburu-buru dan tidak bisa dinikmati. Ternyata, saya salah besar. Dalam perjalanan di Banyuwangi saya bersama satu grup yang semua anggotanya berusia di atas 70 tahun. Grup ini terdiri dari alumni angkatan 68, SMA 1 Boedoet, Jakarta. Menarik,’kan?

Perjalanan melalui udara menuju Banyuwangi, saya diperlihatkan pemandangan pagi yang baru terbit indah dari atas pesawat. Dari pegunungan sampai awan-awan yang bergerak seperti deburan ombak. Bagi saya, itu merupakan pemandangan yang ajaib, meski pesawat terasa sekali goyangannya. Dan saya menganggap itu suatu pertanda baik tentang perjalanan ini.

Pecel Rawon, Rumah Makan Pecel Ayu, Banyuwangi – Image: Sari Novita – Indoepic.com

Pukul delapan pagi, kami sudah berada di Rumah Makan Pecel Ayu, berlokasi di Jalan Adi Sucipto No 65, Banyuwangi. Rumah makan yang sederhana itu, sudah dipenuhi pengunjung. Menu-menu yang disajikan, antara lain: Nasi Pecel, Nasi Campur, Nasi Rawon, Pecel Rawon, dan lain-lain. Saya memilih Pecel Rawon karena penasaran bagaimana rasa pecel dicampur rawon.

Sayuran seperti kacang panjang, toge, dan bayam dengan siraman sambal pecel, tersaji bersama daging empal, udang goreng, rempeyek, dan kuah rawon. Sayuran yang segar dan rasa bumbu pecel yang juga segar, begitu seimbang dengan rasa kuah rawon – tanpa meninggalkan rasa gurih rempeyek. Daging empalnya pun terasa lembut dan punya cita rasa yang maknyoss. Pecel dan rawon serta aneka isinya merupakan hidangan kaya rasa yang rugi jika tidak dicoba. Saya rekomendasikan Pecel Rawon di Rumah Makan Pecel Ayu!

Setelah sarapan pagi, kami menuju Hutan De Djawatan, Desa Benculuk, Cluring, Banyuwangi. Dari kota Banyuwangi, sekitar satu jam kami sampai di hutan yang dulu digunakan sebagai stasiun kereta pengangkut kayu pada masa pejajahan Belanda. Secara personal, De Djawatan adalah hutan kecil terindah yang pernah saya temukan di Pulau Jawa.

De Djawatan, Banyuwangi - Photo by Sari Novita, Indoepic.com
Hutan De Djawatan, Banyuwangi – Image: Sari Novita, Indoepic.com

De Djawatan dipenuhi pepohonan Trembesi (disebut Ki Hujan) yang berusia ratusan tahun. Kesejukan dan keteduhan rindang pepohonan trembesi mampu membius setiap orang yang datang. Apalagi De Djawatan dilengkapi rumah pohon, cafe, jembatan kecil, kendaraan rakit kuno dan andong untuk mengelilingi kawasan. Bahkan masih ada rel kereta yang sudah tidak digunakan lagi.

Jika kamu pencari berat spot instagramable, di sinilah tempatnya. Bisa dibilang, tempat wisata ini memiliki banyak spot-spot kece yang bisa bikin teman-teman kamu iri. Di samping hutan ini, kamu pun bisa memandang persawahan dan aktifitasnya. Kalau ke sini, sebaiknya lakukan pada hari biasa, jangan pas weekend, ya, karena pengunjung bakal ramai sekali.

Naik Andong di De Djawatan, Banyuwangi - Image: Sari Novita, indoepic.com
Naik Andong di De Djawatan, Banyuwangi – Image: Sari Novita, indoepic.com

Di destinasi ini, teman-teman baru saya tersebut, cukup lama menghabiskan waktunya. Apa lagi kalau bukan foto-foto, berbincang-bincang, dan tertawa bersama.

Kemudian perjalanan dilanjutkan melewati Desa Wisata Osing Kemiren. Sayang sekali, pasar tradisional hanya diadakan pada hari Sabtu dan Minggu. Jadi, kami hanya melintas, lalu menemukan sebuah toko yang berjualan perabotan tradisional.

Banyuwangi - Image: Sari Novita, indoepic.com
Banyuwangi – Image: Sari Novita, indoepic.com

Tak lama, penduduk asli Suku Osing yang baru saja mengadakan acara sunatan, melihat kedatangan kami dan menyapa. Salah satu dari mereka memberikan sebungkus kudapan tradisional khas Suku Osing. Dan detik itu juga, kami lahap, kemudian saya menyesal karena tidak memotret kudapan tersebut. Haha.

Penduduk Suku Osing Banyuwangi - Image: Sari Novita, indoepic.com
Penduduk Suku Osing Banyuwangi – Image: Sari Novita, indoepic.com

Menjelang sore, kami sampai di Pantai Pulau Merah, Banyuwangi. Pulau Merah, sebuah pantai yang sangat keren! Pasir putih dan beberapa bukit hijau yang ada menjadi andalan pantai ini. Ada sebuah bukit yang kira-kira tingginya 200 meter, bertanah merah, yang membuat pantai ini puitis. Sehingga dinamakan Pantai Pulau Merah.

Pantai Pulau Merah memiliki luas sepanjang 300 kilometer dan panjang 300 meter. Dan punya ombak yang bagus untuk aktifitas surfing. Jika diperhatikan, Pantai Pulau Merah merupakan terusan Teluk Hijau yang sangat menawan.

Pantai Pulau Merah, Banyuwangi - Image: Sari Novita, indoepic.com
Pantai Pulau Merah, Banyuwangi – Image: Sari Novita, indoepic.com

Kebersihan di pantai ini cukup terjaga. Minum kelapa ijo atau makan bakso sambil menanti senja, bisa menjadi pilihan kamu untuk menikmati pesona Banyuwangi ini. Kata pemandu kami, jika surut, pengunjung bisa mendaki bukit yang puitis itu. Aktifitas lain yang bisa dilakukan, yakni memancing di atas perahu nelayan tradisional.

Saat senja muncul, saya dan genk baru saya, lebih menikmati keindahan sunset daripada berfoto ria.

Pantai Pulau Merah, Banyuwangi - Image: Sari Novita, indoepic.com
Pantai Pulau Merah, Banyuwangi – Image: Sari Novita, indoepic.com

Sudah itu saja jalan-jalan di Banyuwangi selama 24 jam? Nggak, dong! Masih ada Kawah Ijen yang keindahannya tidak mudah diungkapkan dengan kata-kata. Pada malam hari saja, keindahan itu sudah terasa.

Penutupan perjalanan, saya tutup dengan bepergian sendiri. Genk baru saya itu memilih untuk beristirahat dan mereka sadar atas kemampuan fisik yang tak lagi gresss. Saya sempat kesal juga, karena saat di De Djawatan, tiga orang dari mereka begitu semangat dan bertekad mendaki Kawah Ijen. Entah zat apa yang memengaruhi mereka sehingga keinginan itu diurungkan. Haha.

Kawah Ijen, Banyuwangi - Image: Sari Novita, indoepic.com
Kawah Ijen, Banyuwangi – Image: Sari Novita, indoepic.com

Menuju Kawah Ijen, saya tidak benar-benar sendiri. Ada empat mobil dari satu rombongan Tur Kawah Ijen yang dimiliki Mas Rahmat di Banyuwangi. Satu mobil ada sekitar 6 – 7 orang dan dari 4 mobil, hanya 3 orang berwarga negara Indonesia, lainnya negara asing.

Dari Kota Banyuwangi menuju Kawah Ijen menghabiskan waktu sekitar 1 jam. Sampai di sana, kami menunggu pukul 02.00 pagi untuk mendaki bersama pengunjung lain. Saat start, bersama tiga wanita asing yang muda dan cantik, kami berada di urutan paling depan. Setengah jam, kemudian saya mundur jadi urutan ketiga, lalu entah urutan ke berapa. Yang pasti, saya sudah jauh dari grup awal, para wanita muda itu. Pada suatu titik, saya melemah dan seseorang pemandu menghampiri saya. “Mas, sepertinya saya nggak sanggup, deh.”

“Mbak, kita harus sampai ke puncak, tidak bisa tidak! Nggak apa-apa berjalan pelan, yang penting sampai tujuan,” begitu kata Si Pemandu itu.

Sampai tujuan, Kawah Ijen, Banyuwangi - Image: Sari Novita, indoepic.com
Sampai tujuan, Kawah Ijen, Banyuwangi – Image: Sari Novita, indoepic.com

Para rombongan entah sudah sampai di mana, saya dan pemandu tetap berjalan sambil bergandengan tangan. Haha. Kawah Ijen memiliki ketinggian 2.386 mdpl, kata orang-orang sekitar 1,5 km jalanan datar dan 2 km jalanan tanjak. Tapi menurut saya, jalan datar tidak sampai 1,5 km, hampir seluruh jalan menanjak. Haha.

Semakin tinggi pendakian, udara akan semakin dingin, namun pemandangan alam saat malam sudah terasa. Meski, tak jarang, angin kencang dan debu menyerbu kami, hal ini sirna oleh keramahtamahan alam Kawah Ijen. Saya pun berkesimpulan dalam perjalanan yang belum sampai puncak, “Di dalam kegelapan, keindahan itu sudah ada.”

Si Pemandu selalu bilang, “Sebentar lagi sampai puncak,” tapi tidak sampai-sampai juga. Haha. Tak lama, akhirnya, kami sampai di puncak. Dan kami lupa melihat Blue Fire … haha. “Nggak apa-apa, Mas, di atas sini saja sudah indah banget.”

Kawah Ijen - Photo by Sari Novita, indoepic.com
Jelang sunrise, Kawah Ijen, Banyuwangi – Image: Sari Novita, indoepic.com

Ketika sampai di puncak Kawah Ijen, bulan masih terang menderang, jika melihat ke sisi kanan, horison berwarna oranye dan matahari segera muncul. Beberapa menit kemudian, bulan dan matahari hadir begitu indah menakjubkan. Meski dingin luar biasa, kira-kira 4 derajat celcius, rasa dingin itu tidak ada apa-apanya dibandingkan keindahan yang jelas nampak.

Ada satu bangunan berbentuk kotak kecil yang ada api unggun di tengahnya, dan para pengunjung bergantian untuk menghangatkan badan. Bayangkan bertumpuk bersama orang-orang dari berbagai bangsa. Ibarat manusia disatukan kehendak alam, Kehendak Tuhan. Dan saya melihat dua orang pria, kira-kira berusia 70-an tahun di sana. Ah, pasti menyesal genk baru saya itu. Haha.

Api Unggun di Kawah Ijen, Banyuwangi - Image: Sari Novita, indoepic.com
Api Unggun di Kawah Ijen, Banyuwangi – Image: Sari Novita, indoepic.com

Selama mendaki, ada juga pengunjung yang tidak kuat dan mau tak mau didorong oleh kereta gerobak dan menggunakan 3 tenaga manusia. Pekerjaan mereka yang sebenarnya adalah penambang belerang di sekitar Kawah Ijen. Biaya yang dikeluarkan bisa mencapai 800 ribu rupiah. Saya sempat berpikir menggunakan kereta gerobak, namun dilarang Si Pemandu.

Saya baru jumpa pemandu wisata yang sangat memotivasi dan mengerti tamunya. Cukup sering saya berhenti, entah untuk beristirahat sebentar ataupun merasakan keindahan sebelum mencapai puncak. Kawah Ijen merupakan pengalaman wisata berkesan yang tidak hanya berhubungan dengan alam, tapi juga manusia. Pas pukul 08.00, saya dan Si Pemandu pun sampai di bawah Kawah Ijen.

Kawah Ijen, Banyuwangi - Image: Sari Novita, indoepic.com
Kawah Ijen, Banyuwangi – Image: Sari Novita, indoepic.com

Dalam 24 jam, De Djawatan, Pantai Pulau Merah, dan Kawah Ijen, bisa saya jelajahi. Ketiga destinasi wisata tersebut merupakan destinasi rekomendasi orang banyak. Namun, masing-masing punya cerita tersendiri yang saling memberikan kesimpulan.

Pun, jalan-jalan bersama orang berusia di atas 70 tahun, sama sekali tidak merepotkan. Bahkan penuh tawa dan pelajaran.

bersama genk, De Djawatan Banyuwangi
bersama genk, De Djawatan Banyuwangi

Kata genk saya,

”Kami bukan orang yang kaya raya, yang selalu saja jalan-jalan. Tapi ketika ada rencana traveling bersama teman-teman, pasti akan diusahakan dan rezeky pasti ada saja. Kesuksesan bukan saja menikmati hari tua bersama keluarga, tapi juga teman-teman. Tua bukan saja berdiri paling tua di antara anak dan cucu, tapi tua bersama dengan teman seusia adalah kebahagiaan. “





“Tua itu juga butuh teman, malah kehilangan teman bicara bisa menyebabkan dimensia alias pikun, makanya sering-seringlah ngobrol dengan teman sambil traveling … haha …” sambung genk Boedoet.

Related Posts

X