Destinasi Budaya

Potensi Tiong Ohang, Negeri Dongeng di Perbatasan Indonesia – Malaysia

Tiong Ohang bagai negeri dongeng yang terletak di Kalimantan Timur

Aku melihat kayu-kayu yang pecah, lalu beterbangan di udara. Mereka berhamburan dan berdansa ikuti melodi dawai sapeq, menyelinap di antara kabut Diang Karing yang dijaga oleh mantra para leluhur. Apakah ini cerita dongeng? Namun, saat duduk di atas ces, kamu akan menyaksikan pegunungan karst Diang Karing serasa berada di negeri dongeng.

Diang Karing ialah pegunungan batu kapur atau sering juga disebut “gunung tabing putih” yang terletak di kawasan sungai di Tiong Ohang – salah satu yang berdiri di antara 13 kampung di sepanjang Kecamatan Long Apari, Kalimantan Timur, perbatasan Indonesia – Malaysia. Sedangkan, Tiong Ohang memiliki keindahan luar biasa dan potensi wisata yang besar di pedalaman Kalimantan Timur.

Kampung Tiong Ohang dihuni oleh suku Dayak Aoheng, Seputan, dan Bukat. Nama Tiong Ohang diambil pada zaman dulu, saat leluhur melihat kayu ohyang meledak, lalu berhamburan seperti terbang. Maka, diberikanlah nama kampung tersebut “Tiong Ohang” yang berarti: kayu terbang. Tiong Ohang sama dengan desa-desa lain di Kalimantan yang menghasilkan kayu berkualitas baik. Menjelajah Tiong Ohang berarti mengenal potensi unggulan yang berada di kampung cantik ini.

Rumah adat Tiong Ohang - Destinasi wisata Kalimantan Timur - Image by: Sari Novita (ig: @chalinopita) - indoepic.com
Rumah adat di Tiong Ohang, Destinasi Wisata Kalimantan Timur
  1. A. Kayu meranti dan ulin. Kedua jenis kayu inilah yang terkenal dari Kalimantan Timur. Meranti biasa digunakan untuk furnitur, tangga, pintu, jendela, dan bisa dimanfaatkan sebagai obat dan bahan pembuat sabun. Namun, meranti sudah sulit ditemukan karena banyak penebangan yang dilakukan.

Begitu pula kayu ulin atau bulian yang mempunyai tekstur kuat dan keras – kerap digunakan membuat patung dewa, “rumah panjang” atau rumah adat, jembatan, perahu, furnitur, perhiasan, mencegah erosi, dan sarang orangutan.  Sebenarnya, kayu ulin masih bisa ditemukan jika mencari di tengah rimba yang liar.

Di pedalaman, rata-rata rumah penduduk menggunakan kayu, dan semua jembatan, ces, dan rumah adat menggunakan bahan bangunan yang sama. Yang unik di Tiong Ohang, beberapa rumah terpampang furnitur, seperti kursi panjang, meja, dan dinding, dengan warna-warna yang beragam dan menarik perhatian mata. Buatannya pun halus dan rapi. Tidak sulit menemukan kelompok pria bahkan perorangan yang sedang menggergaji, mengaplas, atau mengukir kayu di depan halaman rumah maupun di lahan kosong.

Beberapa penduduk yang ditemui mengatakan bahwa furnitur-furnitur yang dibuat digunakan untuk mereka sendiri atau tetangga. Yang membeli paling dari kampung sebelah – tidak pernah dijual ke kota, seperti Samarinda atau Balikpapan, apalagi  keluar Kalimantan.

Musik Sapeq - Destinasi Wisata Kalimantan Timur - Image by: Sari Novita - indoepic.com
Maestro Pemain Musik Sapeq Tiong Ohang, Destinasi wisata Kalimantan Timur

B. Kayu arau, sering digunakan untuk membuat alat musik tradisional sapeq. Dan jenis kayu ini masih mudah ditemukan. Berawal dari suku Dayak Tunjung atau Belian yang memulai kebiasaan memainkan sapeq untuk mengiringi mantra-mantra pengobatan.  Obat paling sakti saat itu adalah sapeq, mantra, dan ramuan tumbuhan. Kemudian suku Dayak lainnya menggunakan sapeq sebagai pengiring tarian dan sastra lisan.

Mengapa sapeq dijadikan sebagai alat penyembuhan? Sebab, suara dawai yang keluar dari musik tradisional ini mampu menenangkan jiwa yang dapat menyembuhkan pikiran dan hati orang yang sedang sakit.

Musik sapeq di Tiong Ohang bukan untuk kegiatan atau upacara ritual, melainkan lebih banyak digunakan untuk acara ulang tahun, pernikahan, atau acara tukar cinderamata antar kampung, Sedangkan untuk acara ritual, suku Dayak biasa menggunakan alat musik gong.

Alat musik sapeq hanya mempunyai dua senar yang dibuat dari rotan yang diraut dan dibentuk bulat. Sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan manusia yang berkembang, alat musik tradisional ini bertambah variasinya menjadi 3, 4, dan 6 senar. Dawainya pun terbuat dari nilon kawat, tak lagi rotan.

Hal menarik dari alat musik ini adalah tidak adanya kunci nada. Lalu, bagaimana mempelajarinya? Secara oral dan aural. Atau bahasa mudahnya: pakai feeling, yang berasal dari indra pendengaran dan lisan yang diajarkan dengan cara duduk bersama.

Sapeq yang dimainkan mengiringi tarian, memainkan tangga-tangga nada yang berasal dari ketukan gerak dan makna tarian. Pada masa lampau, pemain sapeq baru bisa memainkan dawainya setelah melihat gerak dan paham makna tariannnya. Musik yang dihasilkan kemudian menjadi milik tarian tersebut. Musik sapeq tidak memiliki lirik. Kata “lirik” mempunyai arti yang lain, yaitu nada.

Alat musik tradisional lainnya asal Tiong Ohang adalah suling yang terbuat dari bambu dan cara memainkannya dengan meniupnya melalui hidung atau mulut. Alat musik tiup lain adalah otong, dibuat dari daun enau. Bunyi akan keluar dari mulut yang terbuka dan diletakkan alat musik sambil dipukul. Mengeluarkan suara … ngau … ngau … ngau. Alat musik ini tidak ada lagi yang bisa memainkannya. Kemungkinan masih ada di kampung lain seperti Tiung Bu’u, Kriyo, dan Labuan.

Jika kamu mengunjungi Tiong Ohang, wajib mendengarkan dawai sapeq yang bisa membuat kamu melompat ke dimensi lain. Kamu harus cari orang-orang yang bisa memainkannya. Dan mereka tidak sungkan untuk mengundang kamu ke salah satu rumah penduduk untuk mendengarkan permainan sapeq mereka. Kamu pun harus mendengarkan alat musik tradisional lain yang tak kalah menarik dan indah.

Anyaman Rotan Tikar - Destinasi wisata potensial Kalimantan Timur - Image by: Sari Novita - indoepic.com
Anyaman Rotan Tikar (lampit), Destinasi wisata potensial Kalimantan Timur

C. Rotan, siapa yang tak kenal anyaman rotan dari Kalimantan? Namun, saat ini tidak semua kampung yang berada di pedalaman Sungai Mahakam masih melakukan aktivitas ini. Di Tiong Ohang pun tidak seperti tahun 1980-an, yang selalu terlihat para wanita sedang menganyam di setiap beranda rumah. Meski jumlah pengrajin anyaman tidak sebanyak dulu, para wanitanya masih menghasilkan anyaman rotan berkualitas bagus.

Mereka merajut rotan menjadi tas, gelang, tempat cincin, kursi, taplak meja, caping (seraung), tikar atau lampit, dan perhiasan dinding. Untuk membuat tikar atau lampit, biasa dikerjakan bersama sekitar 10 orang atau royong dan dibantu para pria, karena berat dan sulit merajut rotan menjadi tikar.

Dan hasil penjualan anyaman rotan dapat membantu keuangan rumah tangga mereka. Sayangnya, rotan mulai susah ditemukan di sana dan jarak jauh antara Tiong Ohang dan kota yang tidak memudahkan pendistribusian.

Anyaman Manik - Tiong Ohang, Destinasi wisata potensial Kalimantan Timur - Photo by: Sari Novita - indoepic.com
Caping, anyaman manik Tiong Ohang Kalimantan Timur

2. Anyaman manik. Adalah ciri khas bahkan bisa dikatakan identitas suku Dayak. Kerajinan tangan ini masih banyak ditemukan di Kalimantan. Banyak orang bilang anyaman manik dari Tiong Ohang mempunyai kualitas yang sangat baik.

Berkenalan dan berbicara dengan penduduk, kamu bakal dituntun ke rumah para ahli pembuat anyaman manik. Atau mereka akan memamerkan hasil anyaman manik buatannya yang tidak untuk dijual.

Pakaian adat terbuat dri anyaman manik, Kalimantan Timur - Photo by : Sari Novita - indoepic.com
Pakaian Adat Suku Dayak (anyaman manik) – Ketika berkunjung ke rumah penduduk

Anyaman manik digunakan untuk membuat pakaian adat yang berat minimal 3,5 kg, perhiasan, tempat perhiasan, dan lainnya. Setiap kampung memiliki motif yang berbeda sesuai dengan sukunya.

Diang Karing terlihat dari balik perumahan di Tiong Ohang, Kalimantan Timur - Photo by: Sari Novita - indoepic.com
Diang Karing di balik pemukiman penduduk Tiong Ohang, Kalimantan Timur

3. Diang Karing. Beserta sungai, ces, burung, pepohonan, sinar matahari, dan sapa penduduk asli merupakan kombinasi bahagia yang sempurna. Setelah melewati riam terakhir, menuju Tiong Ohang, orang akan terpukau melihat pegunungan kapur berwarna putih. Ia berdiri megah, gagah, dan tampan.

Ia tidak hanya bisa dinikmati dari atas ces atau speedboat, tapi juga dari teras atas rumah, bahkan sambil berjalan-jalan mengelilingi kampung. Jika ingin lebih dekat memandangnya, naiklah ke atas ces menyelusuri sungai Tepuse. Pada siang hari, sinar matahari akan mengusap wajah kamu dengan hangat. Menjelang sore, kabut mulai berarak-arak dan menyejukkan pandangan dan tubuh, Ketika senja, berdirilah di tengah lapangan luas Tiong Ohang. Senja oranye akan membuat kamu tak berkutik, lalu bersyukur atas anugerah dan kesempatan yang diberikan dalam perjalanan ini.

Selain Diang Karing, kamu dapat mendaki Gunung Bukit Sapathawung. Para muda-mudi kampung senang berjalan-jalan ke bukit ini, biasa mereka lakukan pada pagi hari. Jangan lupa melihat perkebunan yang datarannya berbatu kapur dan goa-goa yang asik untuk bersunyi. Dan tak susah melihat kapal-kapal terapung yang sedang menambang emas.

Wisata alam, tradisi tradisional serta hukum adat, rumah adat, daging payau (rusa) kuliner pedalaman, musik sapeq, tuvung, bahasa Dayak Aoeheng, dan lainnya, kamu akan merasa seperti berada di dunia yang berbeda. Seolah sedang diceritakan sebuah kisah dan dibawa terbang ke negeri dongeng.

Perkebunan penuh bebatuan kapur, Tiong Ohang, Kalimantan Timur

Menuju ke Tiong Ohang? Aha, ini dia. Kamu akan melalui jalur udara, darat, dan air. Dari Jakarta menuju Balikpapan, otomatis kamu harus naik pesawat, sekitar 1,5 – 2 jam. Dari Balikpapan, kamu harus menuju Dermaga Tering dan memakan waktu sekitar 19 – 23 jam. Dermaga Tering ke Tiong Ohang, kamu harus dua kali ganti speedboat, untuk sampai ke Tiong Ohang butuh waktu sekitar 9 – 11 jam. Biaya speedboat Tering – Tiong Ohang per orang sebesar Rp1.800.000.

Tempat penginapan: rekomendasi tempat penginapan yang layak (ada toilet sehingga tidak perlu mandi di sungai): rumah penginapan Bapak Imang Kalet. Soal makanan, tidak perlu khawatir, banyak warung makanan di sini.

Jarak yang jauh dan lelahnya perjalanan akan terhapus saat melihat jembatan penghubung kampung Tiong Ohang dengan kampung lainnya. Dan saat itulah keindahan mulai tampak, keindahan sebuah negeri dongeng di perbatasan Indonesia – Malaysia.

“Take vacation, buy a ticket and fall in love with the island.”

Related Posts

X