Destinasi Budaya

Yuk, Jelajah Destinasi Charlie Chaplin di Garut

Sudah tahu dong Garut juga dikenal sebagai Switzerland van Java, tapi tahu nggak siapa orang yang pertama kali menyebut Garut adalah Swiss-nya Jawa? Selain terkenal dengan keindahan alam, budaya dan penduduknya juga banyak menarik perhatian pelancong Eropa pada masa lalu. Masihkah destinasi wisata tersebut bertahan di zaman millenial?

Sebelum menyelusuri wisata yang menarik di Garut, kenalan dulu dengan sejarahnya. Sebelum ada Garut, masyarakat sekitar menetap di Kabupaten Limbangan. Karena produksi kopi yang merosot, penolakan bupati Limbangan atas perintah penanaman nila, serta sering terjadi banjir, Gubernur Jendral Hindia-Belanda, Herman Willem Daendels membubarkan Kabupaten Limbangan pada tahun 1811.

Dua tahun kemudian, pada tanggal 16 Februari 1813, Raffles mengeluarkan surat keputusan mengenai pembentukan kembali Kabupaten Limbangan dengan rencana pembangunan ibukota di D.Soetjie. Tapi kondisi di wilayah itu tidak memenuhi persyaratan untuk dijadikan ibukota. Sebagai bupati Lembangan saat itu, Raden Adipati Aria Adiwijaya membentuk tim pencarian lokasi yang sesuai digunakan sebagai ibukota.

Alun-alun Garut tahun 1920 – Image dari post: Kezia – Pinterest

Ditemukanlah lokasi terakhir yang dianggap sesuai, yaitu wilayah yang memiliki mata air mengalir ke Sungai Ci Manuk (baca Cimanuk) yang dikelilingi pegunungan. Ketika salah satu anggota tim tergores tangannya, para penjajah mengucapkan kosakata kakarut dengan lafal “gagarut”. Tercetuslah nama Garut yang disetujui oleh Raden Adipati Aria Adiwijaya.

Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 15 September 1813, pembangunan sarana dan prasarana seperti: rumah tempat tinggal, pendopo, kantor asisten residen, mesjid, dan alun-alun. Kemudian tahun 1821, selesai pembangunan fasilitas, terjadi perpindahan pusat pemerintahan.

Charlie Chaplin di Stasiun Cibatu, Garut – sumber tertera

Artis Hollywood Terpesona Keindahan Garut

Pada tahun 1918, seorang fotografer Jerman memotret keindahan alam dan masyarakat Garut. Hasil karyanya diproduksi menjadi postcard di Eropa. Tak lama setelah itu, pesona keindahan Garut membius orang-orang Eropa datang ke Garut.

Yang menghebohkan adalah kehadiran Charlie Chaplin di Garut pada tahun 1927. Tahun 1932, Charlie kembali ke Garut. Dengan naik kereta api dari Bandung, Charlie turun di Stasiun Cibatu dan dijemput mobil limusin, lalu menginap di Hotel Papandayan dan Hotel Grand Ngamplang. Saat itu, Charlie berwisata ke Kawah Papandayan, Kamojang, Situ Cangkuang, dan lain-lain. Kekaguman Charlie pada Kawah Papandayan sangat besar, sampai ia menyebut Garut dengan istilah “Switzerland van Java”.

Peristiwa tersebut menunjukan bukti bahwa tanah Garut telah memikat hati Charlie dan masyarakat internasional.

Bagaimana Garut saat ini, mampukah Garut mengembalikan kejayaan pariwisata masa lalu ke masa kini dan masa depan?

Kawah Papandayan, Garut

Potensi Alam & Kecerdasan Lokal Garut

Pada bagian ini, kami coba menyelusuri alam, budaya, dan tradisi Garut yang telah menjadi nostalgia dan yang masih bertahan sampai kini.

1. Sungai Ci Manuk & Ikan Kancra

“Sungai Cimanuk, bagian peradaban manusia”, begitulah yang disimpulkan Usep Romli HM dalam bukunya Kearifan Budaya Lokal di Sepanjang Sungai Cimanuk. Berkisah mengenai Sungai Cimanuk yang pernah menjadi sumber kehidupan penduduk Garut, Sumedang, Majalengka, dan Indramayu pada masa lalu.

Sumber kehidupan yang dimaksud tentulah air yang mengalir di Sungai Cimanuk. Banyak masyarakat yang menikmati manfaat sungai, seperti untuk membersihkan tubuh, mencuci pakaian, air minum, bahkan bertamasya di tepi sungai. Ikan-ikan yang hidup pun merupakan sumber gizi makanan bagi penduduk. Juga menjadi ‘kehidupan’ bagi para palika, orang yang pandai menyelam (berjam-jam) dan menangkap ikan. Karena kepandaiannya, mereka juga kerap menolong orang yang tenggelam dari arus deras.

Ikan Kancra, Potensi Alam Garut – Sumber foto tertera

Senggal, genggehek, keting, lika, beureumpanon, hampal, balar, dan kancra adalah jenis-jenis ikan liar asli yang hidup di sungai Cimanuk. Ikan kancra, salah satu ikan berukuran besar dan lezat, banyak diminati penduduk dan luar Garut. Namun hanya palika yang bisa menangkap ikan kancra atau dikenal dengan julukan Salmon van Java. Teknik yang dipakai para palika sebenarnya sederhana, tapi ia harus mempunyai fisik prima, berani, rendah hati, dan berpuasa.

Yang unik, palika juga harus punya hubungan baik dengan kelompok ikan kancra. Ikan-ikan kancra akan melarikan diri jika bertemu penyelam yang tak dikenalnya. Sebelum diangkat ke atas pun, palika perlu membujuk, sehingga 2 atau 3 ikan kancra rela mengorbankan diri untuk dijadikan santapan manusia.

Seorang palika harus berenang sampai ke sedong untuk menemui ikan-ikan kancra. Sedong adalah gua berukuran besar dan tinggi. Tidak hanya kancra, jenis ikan lainnya, ukuran besar maupun kecil dapat ditemukan di sedong. Wajar harga ikan kancra lebih mahal daripada ikan lainnya – melihat lokasi dan cara penangkapan para palika.

Ini bukan sedang menangkap ikan, tapi menambang semen (potensi alam Garut) – Image: Aditya Rangga Pratama

Satu lagi yang menambah objek wisata Sungai Cimanukm yaitu Parade Ikan-Ikan Besar.

Pada era 1970-an, sungai ini menjadi tempat persinggahan burung manyar, bangau, kuntul, dan bukaupih. Ragam pepohonan seperti warudoyong, kopo, geredog, dan haur, tumbuh rindang di sekitar sungai. Burung-burung dan pepohan tersebut menjadi pemandangan luar biasa bagi warga lokal dan wisatawan.

Aneka ikan besar pun muncul pada waktu yang tak terduga, loncatan tubuh mereka menjadi kejutan indah buat pengunjung. Suatu kejutan yang disebut peristiwa kebetulan atau kewenehan. Ikan-ikan berwarna kuning kemerahan muncul ketika langit barat bersemburat cahaya lembayung sehingga disebut ngalayung. Sedangkan ikan-ikan tersebut dinamakan si Layung.

Selain si Layung, para pemancing berupaya menangkap ikan kancra, namun kancra selalu bisa meloloskan diri. Maka pemancing menamakan ikan-ikan kancra itu si Rawing. Kedua jenis ikan ini kerap muncul dengan bersamaan maupun pada waktu yang berbeda dan berbaris-baris. Secara bergantian, salah satu dari mereka memimpin barisan atau parade. Tidak heran banyak pengunjung berharap dapat menyaksikan kewenehan dari dua jenis ikan yang melegenda itu. Pun pengunjung tidak hanya rakyat biasa, melainkan pejabat pemerintahan Garut dan petinggi dari luar kota.

Sungai Cimanuk – Image: Koleksi Tropen Museum

O, ya, masyarakat Garut juga memiliki tradisi penangkapan ikan, beberapa diantaranya:

A. Marak, tradisi menangkap ikan secara beramai-ramai yang dilakukan dengan membendung salah satu bagian pinggir sungai dan menggunakan batu, tanah, anyaman bambu, dan sebagainya. Marak dikenal dengan penangkapan ikan secara tangan kosong. Kemudian, hasil tangkapan ikan dibagi rata kepada orang-orang yang membuat bendungan dan para penangkap ikan.

B. Kokodok atau ngagogo, menangkap ikan dengan tangan merogoh di lubang-lubang yang dangkal.

C. Ngabubu, menangkap ikan menggunakan bubu (bambu) yang dianyam rapat. Bagian kepala bambu merupakan lubang masuk ikan. Tradisi ini dilakukan saat sungai surut, untuk mencegat ikan-ikan yang naik dari hilir ke hulu. Dipasang permanen di suatu bagian hulu lubuk, jika lubang sudah terisi, barulah diangkat. Pemasangan bisa dilakukan kembali esok harinya dan diperiksa beberapa hari kemudian.

Selain ketiga tradisi penangkapan ikan tersebut, masyarakat juga menggunakan jala.

Namun, sayang seribu sayang, saat ini Sungai Cimanuk bukanlah Sungai Cimanuk yang sama pada masa sebelum tahun 1980-an. Air yang mengalir di Sungai Cimanuk semakin tebal dan pekat akibat limbah industri, penebangan liar, dan penangkapan ikan yang menggunakan zar kimia maupun elektrik.

Pertunjukan parade ikan-ikan besar, palika dan tradisi penangkapan ikan, kini tinggal kenangan. Kesinambungan kehidupan antara manusia dan hewan-hewan laut tak lagi terjadi. Kehidupan yang ‘hidup’ pada masa itu serasa hanya berupa dongeng yang indah.

Namun, masih banyak masyarakat yang datang ke Sungai Cimanuk, untuk bertamasya atau memancing ikan.

Situ Cangkuang, Garut – Image by: Maya Artoo (pinterest)

Potensi wisata Garut lain yang masih bertahan masih banyak, loh. Beberapa di antaranya ada pada bagian di bawah ini.

2. Kampung Adat dan Situ Cangkuang

Salah satu destinasi Charlie Chaplin saat itu ialah Situ Cangkuang yang terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut. Situ Cangkuang merupakan potensi alam yang bukan buatan, dikelilingi Gunung Haruman, Mandalawangi, dan Guntur, juga ketenangan air dan kesejukan danau menjadi daya tarik bagi pelancong. Tidak hanya wisata alam, pengunjung pun bisa berwisata budaya sekaligus sejarah dan religi. Lengkap, bukan?

Di kawasan Situ Cangkuang, kita bisa mengetahui keberadaan Candi Cangkuang, candi Hindu yang pertama kali ditemukan di Tanah Sunda. Di sekitar Candi Cangkuang terdapat bangunan dan reruntuhan candi, batu-batu besar dan serpihan pisau peninggalan zaman megalitikum dan makam Arief Muhammad.

Candi Cangkuang, Garut – Image by: Kemdikbud

Arief Muhammad adalah salah satu pasukan Mataram yang kalah menghadapi pasukan VOC di Batavia sekitar abad ke-17. Beliau menetap di wilayah tersebut dan menikah dengan wanita pribumi setempat, lalu melahirkan 6 anak perempuan dan 1 anak laki. Kemudian beliau menyebarkan agama Islam dan membangun tempat tinggal beserta peraturannya, yang disebut sebagai Kampung Adat Pulo Cangkuang. Pedoman dan cara hidup yang mengarah pada kelestarian alam, interaksi antar manusia dan memegang teguh peninggalan leluhur, seperti tradisi, pada beberapa komunitas Sunda masih bisa ditemukan saat ini.

Kampung Adat Pulo Cangkuang hanya memiliki 1 bangunan untuk melakukan sholat berjemaah dan 6 rumah tinggal. Bangunan rumah tidak boleh ditambahkan ataupun dikurangkan. Enam rumah yang dibangun oleh Eyang Embah Dalem Arif Muhammad dipersembahkan untuk keenam anak perempuan, dan musala untuk anak lelakinya – yang meninggal dunia saat disunat.

Kampung Adat Pulo Cangkuang, Garut – Image: Kemdikbud

Peraturan yang tidak boleh dilanggar, antara lain: hanya 6 keluarga yang boleh tinggal dan tidak boleh keluar, kecuali orang tuanya meninggal atau menikah; tidak boleh beternak hewan berkaki empat; tidak boleh mencari nafkah di luar wilayah desa, tidak boleh menambah bangunan rumah; tidak boleh datang ke makam keramat pada hari Rabu, tidak boleh menabuh gong; dan lainnya.

Hal-hal tersebut tentu ada alasannya, jika ingin tahu, silahkan datang langsung ke Kampung Pulo, ya. Makam pun tidak boleh menjadi musyrik, apalagi digunakan sebagai pesugihan.

Mengenai mata pencaharian, penduduk Kampung Pulo berprofesi sebagai petani, nelayan, dan pengrajin suvenir. Kampung Pulo bisa dikunjungi setiap hari, mulai dari pukul 07:00 sampai 17:00 WIB, untuk pengunjung dewasa dikenakan tarif sebesar Rp5.000,00 per orang dan anak-anak Rp3.000,00 per orang.

Cecep Arif Rahman (kanan) – Image: Dokumentasi Merantau PIctures

3. Pencak Silat & Seni Ibing

Pencak silat merupakan seni bela diri yang populer di Nusantara bahkan sampai ke luar negeri. Pencak silat tidak hanya mengandalkan teknik bela diri, tapi juga seni keindahan gerak. Pada setiap jurusnya memiliki makna yang harus dapat dipertanggungjawabkan si pesilat sendiri dan kepada muridnya maupun sebaliknya.

Yang menarik adalah setiap pertunjukan pencak silat di Garut selalu ada nada-nada indah yang berasal dari alat musik tradisional. Seni bela diri dan musik ini merupakan tradisi suku Sunda di Nusantara, yang kemudian dikenal dengan seni Ibing. Tidak lengkap rasanya pencak silat tanpa kemeriahan musik tradisional Sunda. Tradisi Garut seperti Lais pun akan semakin hidup dengan kehadiran musik tradisional.

Alat-alat musik tradisional yang kerap hadir pada pertunjukan pencak silat terdiri dari: gendang pencak (kendang pencak), kulanter (kendang kecil), tarompet (terompet), gong, dan kenong. Pun, gendang pencak disajikan dengan lengkap, dari gendang induk sampai gendang anak.

Pencak Silat dan Musik Tradisional Garut

Salah satu perguruan pencak silat di Garut yang mempunyai murid sampai luar negeri (Eropa, Amerika, dll), yakni Perguruan Panglipur, membawakan ibingan secara berkelompok – yang mengikuti jurus-jurus – sekitar 26 ibingan terbagi dalam 3 bagian aksi seni, dan di dalamnya terdapat 14 jurus silat.

Mau tahu apa saja 14 jurus silat tersebut? Diantaranya adalah Jurus Gobang, Si Pitung, Pecah Gunting, Jurus Saras Saru, Sipecut, dan sebagainya. Wait, ada Si Pitung? Yup, pendiri Perguruan Panglipur, Abah Aleh, menggabungkan beberapa aliran silat di Tatar Sunda, termasuk Betawi dan Banten, menjadi jurus-jurus jitu baru yang digunakan perguruan.

Jika traveling ke Garut, wajib menyaksikan pertunjukan silat yang berseni ini. Apalagi Perguruan Panglipur telah berdiri sejak tahun 1909, yang menyimpan sejarah dan seni budaya asli maupun akulturasi.

Tahu, ‘kan, film John Wick? Nah, Cecep Arif Rahman, salah satu pemain yang berperan menjadi lawan John Wick, adalah pengajar pencak silat Perguruan Panglipur. Siapa tahu traveler bisa berjumpa dengan Kang Cecep yang jago ini …

Karya Tenun Sutra Garut, Sebastian Gunawan – Image by: Lucca Yoga

Selain pencak silat, ada juga pertunjukan seni atau tradisi Garut, seperti lais, dodombaan, hadro, bangklung, surak ibra, boboyongan, dan lain-lain. Hampir seluruh pertunjukan seni menampilkan alat-alat musik Tradisional Garut, yang memiliki aneka ragam bentuk dan unik. Untuk kerajinan tangan, bisa mengunjungi pengrajin tenun di Kampung Tenun Garut Panawuan, Desa Sukajaya. Karena Garut juga dikenal sebagai penghasil sutra, otomatis bahan kain yang digunakan ialah sutra.

Untuk menyaksikan dan mempelajari kesenian Garut, traveler dan keluarga bisa menghubungi Yayasan Setia Bhakti Genteng, Jalan Genteng No. 435 Cilawu, Garut atau klik http://setiabhakti.id/index.php/en/seni-dan-budaya

Perkebunan Teh Cikajang, Garut – Image by: Aditya Rangga Pratama

4. Kebun Teh Cikajang (Batu Tumpang) & Talaga Bodas

Untuk menikmati keindahan alam Garut, kami rekomendasikan Kebun Teh Cikajang dan Talaga Bodas. Kita mulai dari Kebun Teh Cikajang terlebih dahulu, ya.

Perkebunan Teh Cikajang dikelola oleh PTPN Giri Awas, berada di lengkungan antara Gunung Cikuray dan Gunung Papandayan. Dari letaknya saja, sudah terbayang, dong, betapa indah dan sejuk hawa di perkebunan ini. Keindahan perkebunan teh akan semakin mantap bila dinikmati sambil minum teh dan merasakan kuliner Sunda yang berada di warung-warung makan sekitar. Malah tidak sedikit pengunjung yang menggelar tikar, duduk dan makan bersama, lalu mengabadikan momen kebersamaan mereka.

Bagi yang senang memanjat tebing, terdapat Batu Tumpang di antara perkebunan, dengan ketinggian 100 meter. Batu Tumpang juga sering disebut batu numpang karena keberadaanya yang seolah numpang di antara perkebunan. Karena ‘wajah’ yang fotogenik, di bawah tebing sering dijadikan spot foto, atau memotret keindahan perkebunan dari atas puncak seperti foto di bawah ini. Mau camping juga diperbolehkan, loh.

Stasiun Cikajang, Garut – Sumber foto tertera

Tidak jauh dari perkebunan teh, dekat Pasar Cikajang, ada bangunan Stasiun Cikajang yang terletak pada ketinggian 1,246 meter yang sudah tidak digunakan lagi dan sempat terabaikan. Stasiun Cikajang dibangun pada tahun 1926 oleh Pemerintah Hindia-Belanda dan mulai digunakan pada tahun 1930, lalu menjadi non-aktif sekitar tahun 1980-an. Bangunan stasiun bisa banget dijadikan spot foto, ditambah lokasinya yang dikelilingi pemandangan alam indah. Dan … doakan, ya, tahun 2020, Stasiun Cikajang (jalur Cibatu–Garut Kota–Cikajang) sudah bisa masyarakat gunakan kembali. Stasiun Cibatu, seorang Charlie Chaplin pernah menginjakkan kakinya, jangan mau kalah sama artis legenda ini!

Nah, jika berwisata ke Pantai Santolo, traveler juga bisa melewati Perkebunan Teh Cikajang, akan sampai sekitar 3 jam-an menggunakan mobil. Jadi, tentukan destinasi sebaik mungkin, ya.

Lanjut wisata alam kedua, yaitu: Talaga Bodas atau Danau Putih. Bayangkan jika traveler berbaring di depan tenda dan memandang langit luas penuh bintang-bintang. Pada siang hari, traveler dapat melihat pemandangan Gunung Sadahurip, berjalan-jalan ke hutan belantara, dan memanjakan tubuh di kolam pemandian air panas.

Talaga Bodas, Garut

Di dalam hutan traveler bakal menemukan kera ekor panjang, burung elang, kutilang, mencek, dan ragam flora lainnya. Sedangkan dari keindahan fauna, hutan di sini memiliki potensi tumbuhan anggrek bulan yang cantik itu. Tapi kalau ke hutan, sebaiknya mengajak pemandu, untuk keamanan dan kenyamanan.

Lokasi Talaga Bodas berada di Desa Sukamenak, Wanaraja, Garut. Harga tiket masuk Rp5.000,00 per orang pada hari biasa dan Rp7.500,00 per orang untuk hari libur.

Selain Perkebunan Teh Cikajang dan Talaga Bodas, destinasi yang bikin Charlie Chaplin jatuh hati: Pegunungan dan Kawah Papandayan. Wajib, nih, ke sini. Satu lagi destinasi alam yang keren, yaitu Puncak Guha.

Soal kuliner Garut, kami tampilkan pada lain waktu, ya. Selamat menjelajah Garut dengan bahagia!

Foto Cover Artikel: klik Sandi Lesmana

Special Thanks to: Bapak Usep Romli HM, Naratas Garoet & Aditya Rangga Pratama

Garut is the Swiss van Java! Don’t miss your chance to find out why! Put this race on your bucket list!

~

Charlie Chaplin

Related Posts

X