Destinasi Wisata

Perjamuan Rempah di Museum Fatahillah & Museum Wayang [Edisi: Kota Tua Jakarta]

Tidak cukup sekali mengunjungi Kota Tua Jakarta. Coba sebut ada apa saja di Kota Tua selain Museum Fatahillah, Museum Seni Rupa & Keramik, dan Museum Wayang? Jika kamu senang sejarah dan seni budaya, ketiga tempat ini belum tentu cukup dihabiskan dalam sehari. Apalagi sekarang ada Magic Art 3D Museum Jakarta dan Kali Besar (Grootegracht) yang baru saja direvitalisasi.

Sejarah Kota Tua Jakarta

Kurang seru keliling Kota Tua Jakarta tanpa mengetahui sejarahnya. Nama “Kota Jakarta” berasal dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di kawasan wisata ini. Jauh sebelum itu bernama “Sunda Kalapa”, nama yang sama untuk pelabuhan. Dan merupakan wilayah yang dmiliki oleh Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Pelabuhan Sunda Kalapa pada masa abad ke-12 telah dikenal sebagai tempat persinggahan sekaligus perdagangan komoditi antara pedagang Nusantara dengan pedagang Gujarat, Arab, Cina, dan lainnya.

Pelabuhan Sunda Kelapa saat ini

Perdagangan komoditi unggulan Nusantara saat itu: lada, cengkih, dan pala sangat berkembang pesat. Tak heran Bangsa Eropa seperti Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda mengincarnya. Sekitar abad ke-15, Portugis berhasil menemukan Nusantara, yang tersohor sebagai penghasil rempah-rempah. Awal kedatangan mereka hanya untuk membeli rempah-rempah, berujung pada perebutan kekuasaan.

Kemudian, karena rempah-rempah, armada kapal Portugis membuat perjanjian dengan Kerajaan Pakuan Pajajaran. Dengan perjanjian tersebut, Portugis dapat mendirikan pos dagang dan benteng, sedangkan Kerajaan Pakuan Pajajaran mendapat bantuan untuk melawan kerajaan-kerajaan Islam. Kerajaan Demak, Banten, dan Cirebon bersatu melawan Kerajaan Pakuan Pajajaran dan Portugis yang berhasrat menguasai rempah-rempah dan penduduk Nusantara.

Pada tahun 1527, mereka berhasil ditaklukan oleh pasukan Kerajaan-Kerajan Islam yang dipimpin oleh Fatahillah. Selanjutnya, “Sunda Kalapa” diubah namanya menjadi “Jayakarta” oleh Fatahillah.

Tahun 1619, hadirlah Jan Pieterszoon Chen yang memimpin VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie). Setahun kemudian, “Jayakarta” berubah nama menjadi “Batavia”.

Pada tahun 1620, VOC mulai membangun Batavia yang dilengkapi benteng, dinding kota, dan kanal. Tahun 1650, pembangunan Batavia rampung dan menjadi pusat administratif Hindia Timur Belanda – dan berdirilah kantor pusat VOC (Balaikota).

Seiring waktu, tahun 1942, Jepang berhasil mengusir Belanda dari bumi pertiwi dan menguasai Indonesia. Berubahlah “Batavia” menjadi “Jakarta”.  Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1972, Ali Sadikin, Gubernur Jakarta, memugar Balaikota dan bangunan tua lain yang banyak menyimpan benda-benda bersejarah. Dua tahun kemudian, Balaikota menjadi Museum Fatahillah – sebuah bangunan yang telah digunakan pada tahun 1712, sebagai sebagai pusat pemerintahan VOC dan pusat kota.

Batavia Lama (Oud Batavia) atau sekarang disebut “Kota Tua Jakarta” memiliki luas 1,3 km persegi dan dikelilingi bangunan tua, stasiun kereta api, café Batavia dan café lainnya, tempat ibadah, tempat kuliner, dan banyak lagi.

Jalan Lada di Kota Tua Jakarta

Apa yang Menarik di Musum Fatahillah

Apa yang ada di dalam Museum Fatahillah merupakan kunci utama yang menghubungkan dengan tempat wisata lain di area Kota Tua Jakarta.

Di Museum Fatahillah, pertama kali masuk saja, kamu akan serasa meloncat ke masa lalu. Lukisan mural yang mengelilingi ruang pertama akan membawa kamu pada perjamuan istimewa yang dihadiri pejabat tinggi pemerintah Hindia–Belanda, tentara serdadu, bangsawan, indo, priyayi, dan golongan sosial atas lainnya. Perjamuan istimewa itu disebut rijsttafel yang menyajikan aneka makanan otentik Nusantara dan akulturasi, serta perabotan mewah; etika makan dan sistem pelayanan/perjamuan yang tidak biasa. Perjamuan yang bagaimana?

Jika ada 10 menu, maka ada 10 pelayan yang melayani 1 meja. Sepuluh pelayan akan berdiri seperti berada dalam antrian. Piring hidangan datang satu per satu menghampiri setiap tamu di meja – menyuguhkan menu pembuka sampai penutup. Pelayan harus menunggu  tamu selesai mengambil hidangan, setelah itu pelayan kedua yang berdiri di belakangnya, baru bisa menawarkan hidangan yang dibawanya, begitu seterusnya.

Biasa jamuan istimewa ini menyediakan 40 – 60 menu makanan, dan para pelayan pria mengenakan kain batik, beskap, dan blangkon, sedangkan pelayan wanita memakai kebaya dan kain batik.

Lukisan Mural Rijstaffel - Museum Fatahillah - Pic by Sari Novita - indoepic.com
Lukisan Mural Rijstaffel – Museum Fatahillah

Lukisan mural yang dilukis oleh Harijadi Sumadidjaja tahun 1973, bisa dibilang mengisahkan perkembangan kuliner di Indonesia. Biefstuk, resoulles, dan soup, adalah 3 contoh menu khas Belanda yang kerap disuguhkan saat rijsttafel. Para nyai mempelajari menu masakan Belanda dari mevrouw (nyonya) mereka dengan menambahkan rempah-rempah Nusantara sehingga menghasilkan cita rasa yang khas. Kuliner Nusantara, seperti nasi goreng, soto ayam, gado-gado, lodeh, sate, serundeng, rendang, dan sambal adalah menu yang juga paling diincar para tamu orang Belanda dan Eropa.

Rijsttafel tidak hanya bercerita makanan, melainkan kehidupan di Batavia pada tahun 1820 – 1950. Dari cara penyajian hidangan, terlihat jelas adanya perbedaan tingkat sosial yang kental. Dan strata paling bawah bagaikan hidup seperti ‘hamba’ terhadap strata di atasnya.

Prasasti Ciaruteun - Museum Fatahillah - pic by Sari Novita - indoepic.com
Prasasti Ciaruteun – Museum Fatahillah

Berpindah ke ruang lain, kamu akan menemukan batu besar yang berupa tapak kaki Airawata, gajah penguasa Taruma pada tahun 5 masehi. Di sampingnya terdapat batu besar yang bernama “Prasasti Ciaruteun” – tapak kaki Raja Purnawarman dan kalimat dalam Bahasa Pallawa, Sansekerta. Tidak jauh dari situ, ada lukisan yang berkisah manusia purba yang mulai mengenal bercocok tanam (sebelum masa berburu dan meramu) menggunakan kapak persegi, kapak bahu, dan kapak lonjong. Dijelaskan juga masa Perunggu-Besi yang masyarakatnya membuat gerabah, artefak logam, dan perahu kayu. Jejak-jejak pada kedua masa itu ditemukan di wilayah Jakarta, seperti: Condet, Pejaten, Lenteng Agung, dan beberapa lainnya.


Chef Wira & Lukisan Perjalanan Rempah Nusantara

Banyak hal yang bisa ditemukan di Museum Fatahillah: Mimbar Masjid Kampung Baru yang berusia lebih dari 2.5 abad; lukisan suasana perdagangan rempah, pertempuran Sultan Agung dan J.P. Coen, pertempuran di Bandaneira, lukisan potret Gubernur Jendral VOC; litografi; senjata perang; perjanjian Sunda – Portugis 1522; furnitur antik; peralatan makan; perhiasan kerajaan; dinding bergambar penjelasan kota Jacatra (Jakarta) dari 3500 SM sampai 1950 – 1959; penjara bawah tanah, dan lain-lain.

Tempat Sirih – Museum Fatahillah

Mengapa ada sebutan “Sunda Kalapa” bukan “Sunda Kelapa” dan “Jacatra” bukan “Jakarta”? Kedua sebutan tersebut pun bisa kamu temukan penjelasannya di Museum Fatahillah.

Bagi kamu pecinta sejarah kuliner, pasti senang mengelilingi Museum Fatahillah. Keluar dari pintu museum, kamu seolah berpindah masa kembali, dari masa lalu ke masa sekarang. Kebun sejuk dalam area museum akan menyambut kamu dengan kudapan khas Betawi. Belajar sejarah kuliner lalu menikmati hidangan khas. Bukankah ini yang dinamakan wisata kuliner yang sebenarnya?

Museum Wayang

“de oude Hollandsche Kerk” (Gereja Baru Belanda), “de oude Bataviasche Museum” (Museum Batavia Lama), dan “Museum Jakarta”, adalah tiga nama sebelum menjadi “Museum Wayang”. Kepemilikannya pun sempat berpindah-pindah tangan sampai terakhir diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Indonesia.

Bila dikaitkan kuliner Nusantara, Museum Wayang menyimpan prasasti yang tertera nama-nama pejabat Gubernur Jendral VOC. Prasasti beserta makam Jan Pieterszoon Coen dan delapan Gubernur Jendral VOC. Yang menarik ketika seorang pemandu datang menghampiri tanpa diminta, ia bercerita pemenggalan kepala J.P Coen.


J.P Coen pernah dimakamkan di gereja Belanda (Museum Wayang), namun jenazahnya telah dipindahkan ke negeri asalnya. Pemenggalan kepala J.P Coen berhasil dilakukan oleh Nyimas Utari Sandijayaningsih (menggunakan golok Aceh) atas suruhan Sultan Agung Hanyokrokusumo. Nyimas Utari Sandijayaningsih adalah seorang mata-mata (telik sandi) Kerajaan Mataram, bekerja sama dengan suaminya, Mahmuddin, telik sandi asal Samudera Pasai. Namun, apakah benar J.P Coen pernah dimakamkan di atas bangunan Museum Wayang dan mati di tangan Nyimas Utari? Tunggu artikel berikutnya.

J.P. Coen – Museum Wayang, Kota Tua Jakarta

Sebelum kematian J.P Coen, 1634, ia pernah melakukan pemenggalan kepala dan pemotongan tubuh terhadap “Orang Kaya” atau sebutan lain dari tokoh berpengaruh di Kepulauan Banda. Kepala dan tubuh mereka ditancapkan ke bambu dan diperlihatkan pada masyarakat Banda. Setelah itu, sekitar 15 ribu penduduk mati dibantai oleh pasukan J.P Coen yang berjumlah 2286 orang.

Kedatangan J.P. Coen pada tahun 1621 bukan pertama kali. Dua belas tahun sebelumnya, ia bersama pasukan VOC datang ke Bandaneira untuk berunding dengan Orang Kaya. Maksud perundingan bertujuan mendirikan benteng agar dapat menguasai perdagangan cengkih dan pala di Kepulauan Banda. Cengkih, dan pala, dua jenis rempah unggulan yang diburu negara-negara Eropa. Cengkih dan pala maupun lada dianggap mempunyai nilai yang sama dengan emas. Masyarakat Nusantara termasuk Kepulauan Banda tahu hal ini. Hingga mereka menjebak 44 pasukan VOC – dan Coen berhasil melarikan diri sedangkan lainnya mati terbunuh.

Dendam dibalas dendam. Ada sebab, ada akibat. Tidak mungkin pemimpin-pemimpin kerajaan Nusantara tidak menyukai kehadiran orang-orang Belanda. Keinginan menguasai rempah-rempah dan penyerangan-penyerangan itulah yang menyebabkan penduduk Nusantara berupaya mengusir para penjajah. Tidak sekadar menyerang, malah Belanda dan Inggris pernah membuat Perjanjian Breda, kesepakatan menukarkan Pulau Run (di Kepulauan Banda) dengan Manhattan, New York pada tahun 1667.

Wayang Suket Museum Wayang, Kota Tua Jakarta

Masuk ke dalam ruang museum, tentara Belanda pun masih ada, tapi berbentuk wayang. Berdiri berhadapan dengan Si Pitung. Di sebelahnya berdiri wayang tokoh Jembatan Ancol dan  lukisan Panakawan. Naik ke lantai 2, terdapat sisilah wayang Purwa yang begitu panjang; wayang golek Sunda; serial Bharatayudha “Seto Gugur”;wayang kulit Kamboja; lukisan kaca “Gunungan”; wayang Suket (wayang bambu); Boneka film Si Unyil;  wayang asal India, Amerika, Inggris, Thailand, dan Vietnam, seluruh wayang diperkirakan berjumlah 5147 koleksi.

Karakter Film “Si Unyil” – Museum Wayang Kota Tua Jakarta

Keunikkan selain makam, Museum Wayang juga memiliki mini perpustakaan yang menyimpan buku-buku kuno, majalah tahun 1970 – 1980-an, arsip dan jurnal lama, buku sastra, budaya, politik, dan sosial. Buku tidak bisa dibawa pulang, tapi kamu bisa membaca sepuasnya di ruang perpustakaan ini. Jika ingin menyaksikan pagelaran wayang, bisa mengikuti jadwal yang telah ditentukan. Bahkan, di belakang area Museum Wayang, kadang ada pertunjukan wayang berbahasa Inggris yang ditujukan untuk wisman.

Perpustakaan Museum Wayang, Kota Tua Jakarta

Bersambung …

Penulis & Foto: SN

“The World is a book, and those who do not travel read only a page.”
~ Saint Augustine

Related Posts

X