Destinasi Wisata

Lasem, Destinasi yang Bikin Jatuh Hati

Jika ditanya, destinasi wisata mana saja yang bikin kami jatuh hati? Kami akan menjawab beberapa tempat, salah satunya adalah Lasem, sebuah kota yang dikenal dengan julukan “Tiongkok Kecil”. Kota yang pada masa kini seolah berada pada masa lalu, namun begitu hidup dan tahan dari ancaman  era industri 4.0.

Riwayat masa lalu yang panjang justru menjadikan Lasem berbeda dan berciri khas. Sebut saja kisah Kerajaan Majapahit, ekspedisi Cheng Ho, Sunan Bonang, pembuatan jalan raya pos Daendels, Geger Pecinan, dan candu, ialah sejarah yang telah membentuk kota dan tradisi masyarakat Lasem sampai saat ini. Semua peristiwa yang disebut di atas, melahirkan akulturasi budaya yang kental. Hal ini dapat kita saksikan melalui destinasi-destinasi wisata di Lasem, bahkan percakapan masyarakatnya.

Kelenteng Cu An Kioing, Lasem Jawa Tengah - Lasem Trip by Indoepic.com

Kelenteng Cu An Kioing, Lasem Jawa Tengah

Klenteng Cu An Kiong

Lasem terletak di utara laut Jawa, yang membuat pedagang dan imigran asing seperti dari negeri Tiongkok mendarat di pesisir pantainya. Kemudian, mereka mendirikan pemukiman di sekitar pantai yang menyebar sampai ke pedalaman, yaitu area klenteng yang berlokasi di Desa Soditan, Jalan Dasun – pada masa itu, pusat kota yang padat (sebelah tenggara klenteng) tidak memungkinkan lagi ditempati.

Singkat cerita, mereka mendirikan klenteng Cu An Kiong, yang berarti istana ketentraman welas asih. Hampir seluruh bangunan klenteng menggunakan kayu jati yang diambil tak jauh dari lokasi, yaitu di sebelah selatan letak klenteng. Sedangkan di bagian timur klenteng terdapat pegunungan Lasem dan laut Jawa di sebelah utara.

Klenteng Cu An Kiong, Lasem - Lasem

Klenteng Cu An Kiong, Lasem – Lasem

 

Ketika masuk ke dalam klenteng, kamu bakal disambut oleh Dewa Laut, Dewa Bumi, dan Dewa Pelindung Kota di bagian altar utama. Jika diperhatikan, kehadiran ketiga dewa tersebut berhubungan dengan kedatangan imigran yang bersyukur karena telah selamat mendarat dan merasa terlindungi. Dewa Pelindung Kota yang ditempatkan di bagian utama, menunjukkan masyarakat Tionghoa saat itu telah memahami tata kelola kota dan berpikir keberlanjutan kota.

Sejarah Klenteng Cu An Kiong, tidak hanya satu-satunya pengetahuan yang kamu bisa temukan. Ada Creation of Gods, 90 frame yang terpampang di dinding sebelah kanan dan kiri klenteng, ornamen megamendung, desain beranda klenteng, penataan ruang, nama-nama penyumbang dana, ukiran motif, dan banyak lagi.

Kelenteng Cu An Kiong, Lasem - Creation of Gods - Lasem Heritage Trip

Kelenteng Cu An Kiong, Lasem – Creation of Gods

 

Destinasi berikutnya, kamu cukup berjalan kaki, sebab bersebelahan dengan Klenteng Cu An Kiong.

Lawang Ombo

Kota Lasem pernah menjadi poros candu di Nusantara. Penyimpanan, perdagangan, dan penggunaan candu bukanlah hal yang aneh. Aktivitas tersebut terkait dengan kebiasaan para keluarga dan petinggi keraton maupun bangsawan di Nusantara yang gemar mengisap opium. Yang kemudian menular pada rakyat biasa, bahkan rakyat kecil.

Posisi yang strategis, membuat transaksi dan penyimpanan opium berpusat di Lasem. Para pedagang membuat lubang bawah tanah untuk menyimpan candu di rumah mereka. Bisa dibilang tidak hanya pedagang, tapi di rumah-rumah rakyat biasa juga terdapat lubang bawah tanah.

Lawang Ombo, Lasem – Image By @heritagepop

 

Konon, lubang yang berada di Lawang Ombo, terhubung dengan Sungai Lasem. Bangunan bekas penyimpanan candu, Lawang Ombo, dibangun oleh Liem King Siok sekitar tahun 1860-an (saat era kejayaan opium).

Ada satu hal yang menarik tentang kebiasaan rakyat kecil mengisap opium. Tentu harga dan dosis yang mereka gunakan berbeda dengan kaum pejabat maupun bangsawan. Petani, buruh, dan rakyat kecil lain, memakai opium seharga 0,5 sen (paling murah) setiap kali pakai. Cairan opium dioleskan pada kertas tembakau yang kemudian menghasilkan sensasi mabuk. Kebiasaan ini disebut ngelelet, yang berarti ampas opium. Lalu, muncul kopi Lelet, yang menjadi kopi khas Lasem. Jika berada di kedai atau warung kopi Lasem, kamu bisa menyaksikan seniman mengukir motif batik dengan ampas kopi di kertas rokok.

Lalu, dari mana asal mula batik Lasem?

Mbah Suti , Pembatik Rumah Batik Nyah Kiok, Lasem - by sari novita indoepic.com

Mbah Suti , Pembatik Rumah Batik Nyah Kiok, Lasem

 

Rumah Batik Nyah Kiok: Batik Lasem

Ekspedisi Cheng Ho pernah mendarat di pesisir laut Lasem. Salah satu anak buah Cheng Ho, Bi Nang Un, kisahnya tercatat dalam Babad Lasem. Sang istri, Na Li Ni, melukis seorang kaisar dan motif lain yang berkaitan dengan negerinya di atas selembar kain putih. Na li Ni menularkan tradisi tersebut kepada penduduk Tionghoa maupun penduduk lokal. Sehingga, muncullah motif-motif lain, seperti burung hong, grinsing, sekar jagad,  paduan sejarah serta kultur Tiongkok dan Lasem.

Waktu perdagangan opium mulai menyusut, masyarakat Lasem menjadikan batik sebagai sumber pendapatan yang baru. Pada abad ke-19, bisa dibilang, hampir seluruh penduduk membatik dan warga Tionghoa memiliki usaha batik. Namun, kini, hanya beberapa pengusaha batik Lasem yang masih bertahan dan melestarikan warisan budaya ini. Salah satunya adalah Rumah Batik Nyah Kiok.

Menariknya, batik Nyah Kiok hanya punya satu motif, yaitu Gunung Ringgit Pring. Selama 50 tahun, Mbah Suti, pembatik yang bekerja di Rumah Batik Nyah Kiok, hanya membatik pola tersebut, tidak berbeda dengan pembatik lain.

Pring berarti dedaunan pohon bambu yang kerap tumbuh di halaman belakang rumah. Selain hanya punya satu motif, proses pengerjaan batik dari awal sampai selesai dikerjakan oleh delapan wanita pembatik lintas usia yang bekerja di Rumah Batik Nyah Kiok.

Saat memandang mereka membatik, terpancar kuat kesabaran, ketelitian, ketulusan, kebersamaan, dan kesetiaan. Ketika ditanya mengapa memilih membatik daripada berjualan makanan, mereka menjawab, “Batik itu bikin tenang, Mbak. Kalau jualan makanan banyak yang dipikirin.” Sementara itu, di sela-sela mengerjakan batik, mereka saling berbagi makanan yang dibawa dari rumah.

Selain Rumah Batik Nyah Kiok, kamu juga bisa menikmati berbagai batik Lasem di Rumah Batik Lumintu,  Rumah Merah, dan lainnya.

Rumah Merah, Lasem - Lasem Heritage Tip by indoepic.com

Rumah Merah, Lasem

 

Rumah Merah

Di Rumah Merah, ada sebuah lorong kecil yang memajang berbagai motif batik dari beberapa rumah batik Lasem yang terkenal. Jangan kaget bila kamu menemukan kembali lubang bawah tanah di Rumah Merah. Tidak itu saja, tapi juga ranjang kuno, perabotan masak, furnitur tua dan antik, sumur tua, dan lainnya yang berbau tua, antik, dan paduan kolonial, etnis Tionghoa, dan Jawa.

Rumah Oei, Lasem - Lasem Heritage Trip by Indoepic.com

Rumah Oei, Lasem

 

Rumah Oei

Barang-barang seperti yang ada di Rumah Merah, juga dapat kamu temukan di Rumah Oei. Malah, Rumah Oei mempunyai beberapa ruang yang menampilkan poster dan foto pahlawan Indonesia, ruang sembayang, furnitur antik yang ditata rapi, dan banyak lagi. Sedangkan dinding-dinding Rumah Oei memampang kebaya kuno dan dipenuhi foto keluarga dan keturunan Oei Am.

Setiap perpindahan ruang, berbeda pula apa yang ditampilkan, namun masing-masing beraroma orisinal. Menurut kami, dari barang-barang tersebut, bisa terlihat riwayat dan gaya hidup keluarga Oei Am, termasuk selera mereka. FYI, Rumah Oei dibangun Oei Am pada tahun 1818, hitung saja sudah berapa ratus tahun rumah ini berdiri.

Rumah-rumah tua di Lasem banyak ditemukan, tapi tidak semua terbuka untuk wisatawan. Beberapa rumah tua yang juga kami kunjungi, yaitu; Rumah Opa, Rumah Bu Frida, dan Rumah Tegel LZ.

Rumah Tegel LZ, LASEM

 

Rumah Tegel LZ

Rumah Tegel LZ dibangun oleh seorang kapitan bernama Lie Thiam Kwie, pada tahun 1910. Arsitektur, desain, dan ornamen rumah bergaya Eropa dan kami perkirakan mempunyai luas lebih dari 1000 meter.

Hampir seluruh lantai di rumah-rumah Lasem berasal atau dibuat dari Pabrik Tegel LZ. Singkatan nama LZ, ternyata nama merk mesin pembuat tegel, yaitu Leipzig yang berasal dari Jerman. Mesin tersebut adalah mesin yang digunakan Lie Thiam Kwie untuk membuat tegel. Sayang, kini, Pabrik Tegel LZ tidak memproduksi tegel secara aktif, sebab banyak cetakan yang hilang atau tak ada mesin pencetak motifnya.

Museum Nyah Lasem

Tampak Depan Museum Nyah Lasem

 

Museum Nyah Lasem

Masih bicara rumah tua, namun rumah tua yang dimiliki A. Soesantio berupa museum. Hobi mengumpulkan barang-barang bernilai historis, inilah yang memunculkan ide beliau mendirikan museum di atas tanah warisan.

Cap motif, peralatan membatik dan batik kuno, kalkulator kuno berukuran besar, timbangan, surat-surat korespondesi zaman Jepang, majalah, gamelan, mesin jahit, peralatan masak zaman dulu, tiket bus, foto, bahkan batu-batu bongkaran digelar di Musem Nyah Lasem.

Angklo, di Museum Nyah Lasem - Lasem Heritage trip by indoepic.com

Angklo, di Museum Nyah Lasem

 

Selain bangunan-bangunan tua yang banyak ditemukan di Jalan Karangturi, kamu juga bisa menikmati teduhnya pohon trembesi.

Pohon Trembesi

Terletak di Desa Karasjajar, Rembang yang tidak jauh dari kota Lasem. Pohon trembesi ini menjadi incaran para traveler yang gemar berfoto instagramable. Selain pohon trembesi, kamu juga bisa menyaksikan pembatik Pusaka Beruang yang berdekatan dengan pohon cantik ini.

Pembatik di Bawah Pohon Trembesi - Rembang-Lasem

Pembatik di Bawah Pohon Trembesi – Rembang-Lasem

 

Ada beberapa destinasi lain yang bisa menambah wawasan sejarah kamu, yaitu: Perahu Kuno Nusantara dan Museum RA. Kartini yang berada di Rembang.

Perahu Kuno Nusantara

Ditemukan pada bulan Juli 2008 oleh penambak garam yang sedang menggali tanah. Lalu, penemuan tersebut diteliti oleh Balai Arkeologi Yogyakarta yang menyatakan bahwa penemuan perahu kuno tersebut berasal dari abad ke-8 dan merupakan perahu kuno paling lengkap yang ditemukan se-Asia Tenggara.

Perahu Kuno Nusantara, Rembang - Lasem Heritage Trip by indoepic.com

Perahu Kuno Nusantara, Rembang

Tak jauh dari lokasi Perahu Nusantara, terdapat tambak garam yang merupakan potensi unggulan Rembang.

Tambak Garam Rembang

Kami sarankan untuk datang sore hari ke destinasi ini. Sebab, kamu akan melihat sinar senja yang mulai jatuh perlahan di atas tambak garam. Sebelum momen itu tiba, kamu pun bisa mengajak bicara penambak garam.

Tambak Garam, Rembang - Lasem Hertage Trip by indoepic.com

Tambak Garam, Rembang

 

Pantai Karangjahe

Ada kutipan, “Kejarlah sunset untuk mendapatkan sunrise,” maka kejarlah ia sampai di Pantai Karangjahe. Sebab, di sini senja begitu besar, bulat, dan oranye roman. Lalu, temukan sunrise saat terbangun esok pagi, maka kamu akan tersenyum lebar. Ceritakan kepada kami, seperti apa “sunrise ” yang kamu temukan?

Apakah terkait dengan Lasem dan diri kamu sendiri, atau kamu malah menemukan kenangan yang terlupakan selama ini?

Pantai Karangjahe, Rembang - Lasem Heritage Trip by indoepic.com

Pantai Karangjahe, Rembang

 

Bagi kami Lasem adalah kota yang mampu melestarikan warisannya. Siapa yang tak jatuh hati dan ingin kembali, kembali, dan kembali.

 

 

 

 

 

“Perjalanan adalah pekerjaan mengasyikkan,
untuk  kembali menemukan diri sendiri.”

Related Posts

WhatsApp chat
X