Destinasi Kuliner

Aer Manis, Minuman Khas Betawi yang Terlupakan

Dulu primadona, kini terlupakan bahkan tak dikenal.

Ibu Cucu Sulaicha dan Ibu Maharani teringat tempo dulu: setiap datang tamu atau bertamu, Aer Manis selalu tersaji di atas meja. Namun, kebiasaan tersebut hilang ditelan kemajuan zaman atau wilayah yang menimbulkan pergeseran budaya, dan pewarisan pengetahuan yang tidak berjalan baik. Orang akan bertanya atau malah bengong bila mendengar nama Aer Manis. Minuman ini seolah-olah tak pernah eksis di bumi, satu artikel dan jurnal pun tidak ada.

Kelir Betawi Series yang digagas oleh Bapak Yahya Andi Saputra, Chef Wira Hardiyansyah, dan Sari Novita (Indoepic.com) bersama Pepy Nasution (indoensiaeats.com), menggelar webinar “Aer Manis yang Terlupakan”, bekerja sama dengan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) dan Dewan Pakar Persatuan Wanita Betawi (PWB), pada hari Rabu, 12 Agustus 2020. “Terlupakan” menjadi huruf tebal sebagai basis untuk mengangkat kuliner primadona Betawi yang jangan sampai terlupakan lagi.

Seusai webinar Kelir Betawi Series, barulah muncul artikel “Aer Manis” yang dipublikasikan oleh Kompas.com dan Detik Food berdasarkan narasumber: Ibu Sulaicha dan Ibu Maharani dari Dewan Pakar PWB.

Tangkwe, Bahan Aer Manis
Tangkwe, Salah Satu Bahan Aer Manis

Aer Manis, Primadona tapi Terlupakan

Aer Manis, bukan satu-satunya kuliner primadona masyarakat Betawi, ada Nasi Berkat, Nasi Uduk Betawi, Abug, Ketan Urap, dan Roti Srikaya yang kami suguhkan. Tapi, hanya Aer Manis yang benar-benar terlupakan. Menu lain cukup dikenal masyarakat, hanya saja, cerita di balik makanan tersebut masih minim diketahui publik.

Dulu, Aer Manis biasa disajikan kepada teman, besan, atau keluarga yang datang dari jauh. Bagi masyarakat Betawi, kedatangan tamu itu “bikin girang”, maka disediakanlah Aer Manis agar tamu turut merasakan keriangan. Sehingga Aer Manis dilambangkan sebagai bentuk sukacita dan pengikat silahturahmi (bagian dari ibadah). Biasa Aer Manis disuguhkan dengan cangkir bukan gelas biasa.

Sukade

Mengapa Aer Manis bukan minuman lain? Minuman ini mudah dibuat, bahan-bahannya pun tak sulit ditemukan; serai, tangkwe/tankue, sukade, pacar cina, dan gula batu. Dilihat dari bahan-bahan yang digunakan, kamu sudah bisa membayangkan kesegaran dan rasa manis yang akan melekat pada memori, letih tubuh dan pikiran pun akan hilang. Serai sendiri berkhasiat sebagai antioksidan, antimikroba, anti peradangan, detoksifikasi, dan kuasa mengurangi rasa cemas.

Untuk memperkenalkan Aer Manis kembali, menurut Ibu Maharani dan Ibu Cucu Sulaicha, sebaiknya, hotel, resto atau cafe, dan acara-acara menghidangkan Aer Manis sebagai “welcome drink” untuk para tamu.

Roti Srikaya Betawi – Image: Indoepic.com

Orang Betawi Hanya Makan Dua Kali Sehari

Masyarakat Betawi tidak seperti orang Indonesia lain yang makan 3 kali sehari. Mereka hanya makan saat sarapan pagi (nyarap) dan makan siang. Sore harinya, mereka ngeteh atau ngupi setelah Azhar. Mereka mengenal mindo: makan sebelum malam, makan sisa nasi dan lauk-pauk tadi siang yang tidak dihangatkan, atau menyantap makanan sisa tadi siang dari bagian atas nasi.

Soal menghidangkan sarapan pagi, mereka tidak menganggap “masak” sebagai proses memasak, sebab hanya nasi uduk, atau nasi ulam, nasi ketan, nasi goreng, atau penganan berupa kue dan umbi-umbian—bagi mereka, memasak itu terdiri dari nasi dan lauk-pauk.

Nasi Uduk Betawi

Beberapa menu yang mempresentasikan kebiasaan makan masyarakat Betawi dalam webinar Kelir Betawi Series, yaitu: Nasi Uduk Betawi (tanpa soun atau bihun) dengan Dadar Aur yang dibentuk melingkar; Aer Manis; Roti Srikaya (bisa juga dinikmati dengan ketan); dan Sengkulun untuk hidangan ngeteh atau ngupi. Sengkulun Betawi mempunyai 2 macam yang dibedakan dari penggunaan bahan: pertama Sengkulun yang memakai sagu dan tepung ketan; kedua, yang menggunakan tepung ketan dan tepung beras, bentuknya mirip Dodol Cina. Ciri khas Sengkulun Betawi: di atasnya terdapat bintil persis jerawat dan pembuatannya pun menggunakan trik khusus.

Kue Sengkulun Betawi – Image: indoepic.com

Untuk makan siang, kami memilih Nasi Berkat berisi Serundeng/Serondeng Kedele, Gule Buncis, Pismol, Semur Betawi, dan Acar Kuning yang dibungkus dengan daun jati dan dilipat segi empat.

Nasi Berkat

Nasi Berkat Betawi sebenarnya adalah menu acara hajatan—seusai acara dan ketika tamu akan pulang, diberikan Nasi Berkat dengan maksud agar mereka turut mendapatkan berkat dari acara tersebut. Yang menarik perhatian dari hidangan Nasi Berkat adalah daun jati dan Serondeng Kedele.

Ibu Cucu Sulaicha dan Ibu Maharani bercerita bahwa Jakarta tempo dulu masih banyak ditemukan pohon jati. Sekitar tahun 1960-an, pembangunan mulai dilakukan secara agresif di kota Jakarta dan banyak pohon-pohon ditebang. Sehingga terjadi pergeseran budaya, penyajian Nasi Berkat yang mulanya menggunakan daun jati, berganti daun pisang sampai besek, mengikuti zaman dan tren.

Serondeng Kedele

Sedangkan Serondeng Kedele adalah menu yang wajib ada dalam hidangan Nasi Berkat. Salah satu bahan yang dipakai ialah kelapa dan dimasak dengan cara di-gongseng—cara yang sama dengan Kerak Telor, tapi tidak seperti Bebanci yang harus ditumbuk. Jinten, bawang merah, bawang putih, ketumbar, cabai, salam, serai, dan jahe, semua bahan ini digoreng, selanjutnya digodok bersama gula merah sampai mengental, terakhir masukan kelapa dan kedele. Serondeng dan kedele tentu saja menambah krispi masakan dan mempunyai ke-khas-an berbeda dengan serundeng lain.

Kelir Betawi seri pertama berangkat dari makanan primadona yang terlupakan. Jika primadona, mengapa terlupakan? Apakah zaman adalah pelaku utamanya? Sebelum webinar digelar, Bapak Andi Yahya Saputra mengutarakan pengamatannya,

“Bahan-bahan makanan bisa ditemukan di mana-mana, masalahnya tidak ada kemampuan mengolah masakan, karena para pemasak atau tetua tidak melakukan transmisi secara baik kepada generasi penerus, itulah yang membuat gagalnya pewarisan masakan tradisional.”

Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh peserta, Kompas.com, dan Food Detik. Tunggu Kelir Betawi selanjutnya.

Related Posts

Leave a Reply

X