Desa Wisata

Desa Menari, Desa Wisata di Semarang

Saat butuh rileks dan jenuh dengan suasana kota, kamu wajib mampir ke Desa Menari, Semarang.  Bagi yang suka kesenian dan rekreasi budaya dengan alam cocok, nih!

Dusun Tanon disebut Desa Menari. Kok, desanya menari? Disebut menari karena terinspirasi oleh dua hal. Pertama, masyarakat sekitar secara turun-temurun  merupakan pelestari seni tari sehingga menari identik dengan hobi kolektif atau aktivitas yang menyatukan para warga. Kedua, tercipta dari akronimnya, menari: menebar harmoni, merajut inspirasi, dan menuai memori. Warga Desa Menari berharap, siapapun yang berkunjung dapat merasakan harmoni atau keselarasan dengan saling berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Julukan Desa Menari, awalnya merupakan branding Desa Wisata Tanon, tapi ternyata kalah pamor dengan nama Kecamatan Tanon di Kabupaten Sragen sehingga banyak orang yang menyasar ke sana. Lalu terpikirlah untuk membuat orang penasaran datang ke Dusun Tanon, yaitu mencari identitas yang melekat dengan jiwa masyarakat. Di akhir tahun 2012 ditemukanlah tagline Menari.

Trisno, Penggagas Desa Menari, Desa Wisata di Semarang

Dulunya masyarakat sekitar dikenal belum berpendidikan dan berpenghasilan di bawah rata-rata. Keadaan memprihatinkan tersebut membuat seorang pria bertekad memberdayakan para masyarakat. Trisno namanya, kelahiran 12 Oktober 1981. Ia lulusan sarjana psikologi di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Pada awal proses, tidak mudah bagi penduduk. Mereka pesimis dengan kegiatan desa wisata dapat meningkatkan penghasilan mereka. Setelah hasilnya terlihat, barulah mereka mulai saling mengajak seluruh warga untuk berpartisipasi. Trisno percaya banyak potensi wisata di Dusun Tanon yang bisa digarap. Alam yang sangat asri di bawah kaki Gunung Telomoyo jauh dari polusi dan hiruk pikuk kehidupan modern sehingga dapat disukai oleh masyarakat kota.

Kang Trisno. Anak dusun yang semangat berkarya untuk kampung halamannya. Ia menggerakkan langkah para masyarakat sekitar menjadi gerak tari yang tertata. Tinggal di desa yang melekat kuat dengan mitosnya, menyebabkan tidak adanya dukungan untuk meraih pendidikan. Kang Trisno tetap gigih belajar dan bertahan hidup selama mengenyam pendidikan walaupun terhambat dengan lingkungan dan faktor biaya. Dengan segala keterbatasan ia mampu bertahan menjalani hidupnya dengan keyakinan dalam diri untuk melakukan segala hal. Hingga pada akhirnya ia menjadi sarjana pertama di Dusun Tanon. Kesuksesannya tak membuat dirinya meninggalkan kampung halamannya. Ia melihat potensi daerahnya yang tidak semua orang lihat dengan pola pikirnya. Kang Trisno tidak sepaham dengan pikiran lebih baik di kota daripada di desa. Ia lebih memilih menyejahterakan kampungnya.

Desa Menari, Dusun Tanon, Semarang

Kebersamaan dan rasa saling memiliki para masyarakat menjadi penguat berkembangnya desa ini. Kang Trisno mengubah pola pikir masyarakat dengan membangun relasi dengan banyak pihak supaya mereka berinteraksi dengan para akademisi. Ia meyakini bahwa perubahan akan datang ketika masyarakat sering berinteraksi dengan orang-orang luar yang punya wawasan lebih luas. Dan akhirnya pelan-pelan mereka sadar untuk belajar mengubah sisi ekonomi mereka.

98% masyarakat terlibat aktif dalam kegiatan tari, dari anak-anak hingga orang tua. Misalkan ada yang tidak terlibat, mereka membantu dana pementasan dengan iuran. Masyarakat Desa Menari juga meningkatkan pendapat mereka dengan menjual berbagai produk hasil perkebunan, peternakan, dan kerajinan tangan.

Kang Trisno menanamkan satu hal pada masyarakat, “lihatlah sesuatu yang sederhana di tempat kita dari sudut pandang yang berbeda”. Ia juga menekankan pada masyarakat dan dirinya sendiri, “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, berkarya lebih baik daripada daripada meminta”. Ia dan desanya ingin membuktikan ketika diberi bantuan oleh pihak manapun bahwa mereka layak bukan karena meminta belas kasihan.

Tokoh masyarakat Tanon bernama Pak Suiman, beliau punya cerita tentang masa lampau di sana. Pada tahun 1972, jalan masih setapak dan anak-anak berangkat sekolah tidak pakai sepatu dan hanya memakai kaus belum ada seragam. Pendidikan tertinggi adalah kelas 2 SD, itu sudah hebat dan bisa menjadi Kepala RT. jika sampai SMP bisa menjadi Kepala Desa. Dulu di Dusun Tanon, semangat para anak-anak untuk sekolah atas kehendak diri mereka sendiri. Para orang tua tidak membimbing untuk belajar tapi malah memiliki mitos. “Jangan sekolah pintar-pintar lebih baik jadi petani” dan “Jangan jadi orang pintar nanti cepat mati”. Bagi para orang tua saat itu, menjadi petani sudah cukup karena hasil panennya yang menghasilkan. Jika jadi orang terlalu pintar, mereka beranggapan hanya akan membuat diri stres sehingga tidak baik untuk kesehatan.

Ya, itu dulu. Kini Dusun Tanon telah berubah menjadi Desa Menari yang berkembang baik dan namanya makin dikenal. Satu jenis tari yang menjadi identitas Desa Menari adalah Tari Topeng Ayu. tari ini sejarahnya dari Tari Kobro Siswo yang ditarikan dari sejak zaman perjuangan. Pada saat masa penjajahan, siapapun tidak boleh berlatih bela diri sehingga para pelatih bela diri menyimulasikan dalam bentuk tarian diiringi musik. Padahal sebenarnya, gerakan asli Tari Kobro Siswo tersebut adalah gerakan pencak silat.

Tari Lembu, Desa Menari, Dusun Tanon. Image by: Universitas Negeri Semarang

Sejak zaman leluhur, para masyarakat memang dikenal memiliki jiwa seni yang tinggi terutama menari. Para pengunjung Desa Menari biasanya pada malam hari disuguhkan berbagai kesenian, seperti penampilan Tari Topeng Ayu, Kuda Debog, Kuda Kiprah, dan Warok Kreasi. Selain tarian, ada juga dolanan ndeso (permainan desa) seperti Toya Gila, Tangga Manusia, Pipa Bocor, dan Serok Mancung. Permainan tersebut turun-temurun dari leluhur yang dengan alat sederhana menggunakan bambu.

Selain berkesenian, para pengunjung bisa menginap di rumah warga dan mengikuti aktivitasnya seperti mencari rumput untuk makanan ternak, memetik hasil pertanian dan bercocok tanam. Jika ingin merasakan kesejukan alam pedesaan pun dapat berkeliling dengan berjalan kaki menjelajahi Lereng Telomoyo, Prasasti Ngrawan, dan air terjun.

            Bagi kamu yang ingin berkunjung ke Desa Menari, bisa coba paket “Tour Plus Education” dan “Home Stay Komunitas” dengan pilihan sesuai minat:

  • Belajar kesenian rakyat dari “Krido Budi Utomo”
  • Belajar proses pemeliharaan, pemerahan dan pemrosesan susu menjadi industri kreatif
  • Belajar kerajinan anyaman
  • Belajar pembuatan “Sawut Teloroso”
  • Belajar membuat dan memaknai “Pamongan Andum Roso”
  • Belajar permainan tradisional
  • Outbound Ndeso
  • Relaksasi mental

Untuk homestay, ada 20 rumah penduduk yang dijadikan inap desa dengan kapasitas sebanyak 80 orang. Bersiap ke Desa Wisata Tanon/Desa Menari? Monggo langsung hubungi Kang Trisno di nomor 081329492255. Alamatnya di Dusun Tanon, Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Jangan lupa kepoin www.desawisatatanon.com ya!

Ditulis oleh: Oase Kirana Bintang

“A nation’s culture resides in the hearts and in the soul of its people.”

~ Mahatma Gandhi

Related Posts

Leave a Reply

WhatsApp chat
X