Destinasi Budaya

Ingatan yang Terhapus: Sunda Kelapa, Jaringan Perdagangan, dan Identitas Jakarta

Rempah-rempah menjadi popular pada masa pandemi, namun sayang, jika kita tidak melakukan perjalanan waktu ke masa Jakarta bernama Sunda Kelapa. Untuk apa? Tentu saja untuk mengembalikan ingatan terhadap sejarah perdagangan rempah dan identitas Jakarta.

Pertama kita akan meloncat pada zaman menjelang milenium pertama (1 Januari 1 M sampai 31 Desember 1000 M) di mana masyarakat Nusantara saat itu telah berlayar sampai Maladewa, Madagaskar, dan Pantai Timur Afrika. Mereka membawa tembikar, emas, dan rempah, dan komoditi lainnya untuk dijual, lalu membeli barang-barang yang dibutuhkan masyarakat di Nusantara. Transaksi perdagangan tersebut dilandasi mutualisme terhadap barang kebutuhan yang otomatis membentuk jejaring internasional.

Vahoaka Ntaolo, nenek moyang Austronesia pertama dari Malagasi, mungkin menggunakan kano serupa untuk mencapai pulau besar dari Kepulauan Sunda. Image: Wikipedia

Hubungan internasional tersebut terus berlanjut, pada awal abad masehi, rute maritim semakin berkembang, para penjelajah mengikuti rute yang dipelopori orang-orang Melayu Austronesia. Para pelayar Nusantara-lah yang menghubungkan India dengan Cina melalui jalur maritim dan rempah-rempah Nusantara kian menguasai pasaran dunia.

Kemudian, kedua, sampailah pada masa kejayaan Kerajaan Tarumanagara hingga era kolonial. Rempah-rempah di Kepulauan Nusantara adalah kunci dari era eksplorasi. Salah satu pelabuhan bersejarah di Jakarta adalah Pelabuhan Sunda Kelapa yang memiliki peran penting dalam jalur rempah internasional. Sejak masa Kerajaan Tarumanagara (abad 5 – 7M) hingga masa kolonial Hindia-Belanda, pelabuhan Sunda Kelapa mempunyai peran dalam perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Data-data kesejarahan yang menunjang bisa dilacak adalah berupa data primer, seperti arsip, yaitu Plaakatboek tahun 1602-1811 dan Dagregister 1674, serta dari sumber-sumber sekunder, seperti buku-buku tentang rempah dan sejarah pelabuhan Sunda Kelapa.

Batavia-1730, Lukisan Jacob Keyser, Koleksi Universite Leiden - Ary Sulistiyo - Indoepic.com
Batavia-1730, Lukisan Jacob Keyser, Koleksi Universite Leiden

Sebelum bangsa Eropa menemukan Kepulauan Nusantara, Tionghoa, India, Arab, Persia, dan bangsa lainnya telah mendarat di Nusantara. Dan sebelum kedatangan Portugis pada abad ke-16, Malaka menjadi “emporium” dengan lokasi pelabuhan yang strategis yang tidak hanya sebagai tempat bersandarnya kapal-kapal untuk melakukan perdagangan melainkan pergudangan, pasar, dan perbaikan kapal. Tahun 1511, Portugis berhasil merebut Malaka, lalu muncullah kota-kota di Nusantara sebagai pusat perdagangan baru menggantikan Malaka, yaitu: Aceh, Banten, dan Sulawesi yang juga berada di lokasi strategis.

Banten dengan pelabuhan Sunda Kelapa menjadi titik transit pengiriman cengkih dan pala dari Kepulauan Maluku ke Malaka, lalu Asia Selatan dan Barat, dan juga transaksi perdagangan rempah lainnya, seperti lada, kayu manis, barus, dan cendana serta beras, kayu jati, emas, damar, tebu, dan komoditas nonrempah lainnya.

Pala, Image: NeedPix

Rempah-rempah tersebut diburu tidak hanya oleh bangsa Eropa tapi juga dunia. Penemuan rute ke Kepulauan Nusantara dirahasiakan oleh Portugis dari negeri-negeri Eropa, mereka berupaya mencari rute dengan berbagai cara. Jan Huygen van Linschoten mengawali penyamaran menjadi sekretaris biarawan di seminari Portugis tahun 1583–1588, pada tahun 1592, ia kembali ke Belanda dengan kumpulan informasi peta, jenis-jenis rempah dan wilayah-wilayah yang memproduksi sekaligus khasiat dan cara penggunaanya. Tahun 1592, Cornelis de Houtman mencari informasi kepulauan rempah (Nusantara) dengan berpetualangan ke Lisbon. Linschoten maupun Houtman menyimpulkan bahwa Banten adalah wilayah yang tepat untuk mendapatkan rempah-rempah.

Linschoten menerbitkan buku Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien yang berisi penemuan informasi tentang rempah di Nusantara tahun 1596, pada tahun ini juga, Houtman sampai di Pelabuhan Sunda Kelapa, Banten.

Pelabuhan-Sunda-Kelapa-by-Sari-Novita - Indoepic.com
Pelabuhan-Sunda-Kelapa, image: Sari Novita

Dalam memahami masa lalu melalui peran pelabuhan Sunda Kelapa terhadap jaringan perdagangan rempah-rempah Nusantara, konteks sejarah lokal dari pelabuhan Sunda Kelapa turut berperan dalam dinamika regional dan global. Sunda Kelapa sejak masa awal sejarah hingga pertengahan abad ke-19 secara terus-menerus menjalankan fungsi utamanya, yaitu sebagai pusat pelabuhan komersial. Berkembangnya pelabuhan Sunda Kelapa bersamaan dengan munculnya kota-kota di wilayah pantai utara Jawa, Sumatera, dan Semenanjung Melayu. Kedatangan bangsa Barat pada masa selanjutnya mendorong perkembangan kota koloni Batavia. Kapal-kapal yang berlayar antara Cina dan Eropa terlebih dahulu melewati Sunda Kelapa. Oleh karena itu, pelabuhan Sunda Kelapa menjadi pusat pasar dan bandar transit yang memilik corak maritim di Hindia-Timur.

Seiring dengan perpindahan Kota Batavia pada abad 19 Masehi, kebutuhan akan pelabuhan modern baru ditandai dengan dibangunnya pelabuhan Tanjung Priok tahun 1877. Dengan panjangnya lintas sejarah perkembangan tersebut menjadi simbol identitas ‘Sunda Kelapa’ hingga menjadi ‘Batavia’ yang dimulai dari pemukiman sederhana, pemukiman terkoordinasi, kota pusat perdagangan, dan akhirnya menjadi kota pusat kekuasaan, bahkan kini menjadi kota metropolitan Jakarta. Hal ini dikarenakan tidak terlepasnya pengetahuan kebaharian bangsa Indonesia yang sudah terukir jauh sebelum adanya bangsa Eropa melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah dan kolonisasi wilayah. Baik secara insuler maupun interinsuler dalam membentuk jaringan pelayaran dan perdagangan di Nusantara masa lalu, kini dan mendatang.

Penulis: Ary Sulistyo, Heritage Researcher : email: sulistyo.ary26@gmail.com

Foto Cover: Sutanto

“Masyarakat waktu itu menganggap rempah tidak hanya sebagai komoditas, tapi juga simbol budaya. Rempah pernah menjadi penggerak sejarah dan bahkan mengubah peta dunia.” – Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum.

Related Posts

X