Destinasi Budaya

Orang-Orang Suku Laut, Para Penjelajah Negeri Maritim

Kepulauan Indonesia memilliki luas sekitar 1,905 juta km² dan kurang lebih 16.056 pulau berpenghuni maupun tidak berpenghuni – terdaftar di PBB pada konferensi sidang ke-11 United Nations Conference on the Standardization of Geographical Names (UNCSGN).

Menilik dari letak geografis Indonesia, membuat kita berpikir bahwa kehidupan manusia tidak sebatas di darat saja, dan itu telah terbukti dari apa yang telah pernah dilakukan oleh orang-orang laut (Sea Nomads / Sea Folk). Mereka  telah lama malang-melintang meneruskan hidup hanya di atas kapal yang mereka miliki. Segala hal yang berhubungan dengan kehidupan berada di atas kapal: hanya saat mereka ingin menukar (barter) ikan hasil tangkapan dengan kebutuhan hidup, seperti beras dan lain-lain.

Kidung “nenek moyangku adalah seorang pelaut” memang layak disandangkan kepada suku melayu asli Kepulauan Riau ini — menurut  beberapa sumber terutama dari thesis Cynthia Gek-Hua Chou untuk gelar Doktor Filsafatnya pada Universitas Cambridge, Mai 1994 silam. Dari hasil penelitiannya, Orang Suku Laut adalah suku asli ras melayu tua (Proto Melayu). Meraka pure orang suku laut yang hidupnya hampir secara keseluruhan berada di atas kapal dan bertualang dari satu perairan ke perairan lainnya.

Orang Suku Laut. Image by: James Morgan

Kehidupan Orang Suku Laut

Kehidupan sehari-hari orang suku laut adalah menangkap ikan yang merupakan makanan utama mereka. Dari  beberapa hasil tangkapan akan dibarter dengan beberapa kebutuhan lainnya setiba mereka di bibir pantai dengan penduduk pulau sekitar. Saat tidak berlayar pun orang suku laut biasanya lebih sering tetap berada di atas sampan mereka yang bersandar di tepi daratan.

Satu sampan (rumah) biasanya berisi satu keluarga sedarah (nu-clear family) yang menjadi batih. Bagi mereka sampan adalah elemen material utama yang menjadi basis fundamental sosial dan kebudayaan yang telah mereka percaya secara turun temurun, akan ada hal-hal sial yang terjadi jika mereka berlama-lama meninggalkan sampan. Dan sampan juga merupakan representasi dari hubungan sosial yang berkenaan dengan aktifitas ekonomi dan kosmologi kelautannya.

Sampan orang laut dilengkapi dengan lantai dan tempat memasak. Bagian dalam lantai sampan dibuat bertingkat dua: Lantai bawah agak cekung berfungsi sebagai tempat barang serta gudang persedian makanan. Lantai atas dengan permukaan yang datar merupakan ruang keluarga berkumpul, makan, dan tidur. Untuk memasak berada di bagian dekat buntut sampan, dibuat lantai khusus dari tanah liat yang diratakan dan di atasnya disusun batu untuk tungku.

Dari hasil penelitian Cynthia, saat tiba musim angin utara di mana angin mulai berhembus kencang, bahkan terkadang terjadi badai yang cukup besar, orang-orang suku laut akan berlabuh dan menyandarkan sampan mereka di bibir daratan kurang lebih selama tiga bulan.  Selama musim angin utara biasanya mereka akan mencari kayu resak, seraya atau kamper untuk memperbaiki sampan (rumah).

Image by: nsmt0eelse (tumblr)

Kebudayaan Orang Suku Laut

Orang suku laut pada umumnya mengenal istilah daur hidup (lingkaran hidup), konsep utamanya adalah dua hal di mana kehidupan berasal dari masa lalu dan masa sekarang. Masa lampau serupa kepercayaan terhadap roh nenek moyang. Masa sekarang serupa cara/kegiatan untuk terus bertahan dengan kehidupan di lautan. Satu hal lain yang menakjubkan dari sikap mereka dari cerita yang saya dapat dari seorang penduduk pesisir Nongsa Batam yang asli dari Kab. Lingga adalah perihal kepercayaan (janji rahasia). Bagi mereka rahasia itu suatu yang sakral hingga ada pepatah,


“Rahasia lebih baik pecah di perut dari pada di mulut”.

Pun proses kelahiran orang laut akan melahirkan di atas sampan dibantu oleh dukun beranak – yang selalu berada bersama keluarga yang akan melahirkan – beberapa hari sebelum kelahiran. Perihal kematian menurut beberapa cerita rakyat pesisir pantai, pada masa lampau orang laut akan diikat dengan beban yang berat lalu akan dikuburkan di dasar laut, di mana pemberat tersebut berfungsi untuk membawa jenazah turun ke dasar lautan.

Image by: Wikipedia

Orang Suku Laut Era Sekarang

Kisah tentang orang suku laut (Sea Folk) di provinsi Kepulaun Riau pada hari ini tidak seperti di masa lampau lagi. Mulai terjadi perubahan budaya dan perilaku sejak Kepulauan Riau terjadi pemekaran menjadi Provinsi. Banyak dari suku laut yang saat ini  menetap di pesisir pantai. Dan hampir semua dari mereka yang menetap telah menganut agama yang disyahkan oleh pemerintah.

Ditulis oleh: Hendra Mahyudhy


“The struggles we endure today will be the ‘good old days’ we laugh about tomorrow.” ~ Aaron Lauritsen

Related Posts

Leave a Reply

X