Destinasi Kuliner

Toko Oen, Nostalgia Sebagai Destinasi Kuliner di Semarang

Di sudut pertigaan itu, berdiri bangunan bergaya indische yang menarik perhatian pecinta arsitektur dan kuliner lawas. Terlebih orisinalitas adalah konsep yang dipresentasikan oleh Toko Oen Semarang sejak kemunculannya pada tahun 1936 sampai saat ini.

Ketika pintu berkotak kaca mempersilahkan masuk, kamu akan meloncat dari zaman modern ke era kolonial. Dan merasakan interior ruang, furnitur, dan suasana yang serba kuno, apalagi berjajar toples-toples besar berisi kue-kue khas Belanda yang tidak mungkin ditolak oleh lidah kamu. Itulah yang justru memikat lintas generasi selama 84 tahun.

Toko Oen Semarang

Riwayat Toko Oen

Tidak hanya manusia yang memiliki riwayat, bangunan bahkan makanan pun punya kisahnya sendiri. Lalu bagaimana riwayat Toko Oen Semarang?

Pasangan suami-istri Liem Gien Nio (Oma Oen) dan Oen Tjoen Hok (Opa Oen), memulai usaha toko kue mereka pada tahun 1910 di Yogyakarta. Saat itu mereka hanya menjual kue kering seperti kaasstengels, ananas, bokkepootjes, speculas, theekrantjes, dan banyak lagi—kini, ragam kue tersebut masih digemari para pengunjung.

Oma Oen dikenal mudah bergaul dan mempunyai sahabat-sahabat bangsa Belanda yang kerap membuat kue kering asal negerinya. Beliau kumpulkan resep dari para sahabatnya itu, lalu ia melakukan uji coba berkali-kali sampai hasil kuenya disukai banyak orang.

Pada tahun 1922, Oma Oen mengembangkan usahanya dengan mengubah toko menjadi restoran, serta menambah hidangan es krim dan makanan Indonesia, Belanda, dan Tionghoa. Tahun-tahun selanjutnya, Opa Oen dan Oma Oen membuka cabang di Jakarta (tahun 1934-1973), Malang (tahun 1936-1990, lalu berganti pemilik), dan Semarang (tahun 1936 hingga saat ini).

Toko Oen Semarang by Sari Novita, Indoepic.com
Toko Oen Semarang – Image: Sari Novita, Indoepic.com

Kisah Es Krim di Indonesia

Sekitar abad ke-19, Belanda pertama kali memperkenalkan es krim di Hindia-Belanda, sedangkan es batu dibawa sebuah kapal yang berlayar dari Boston, Amerika Serikat, ke daratan Batavia tahun 1846. Pada zaman itu sampai Toko Oen mengembangkan usaha, es krim masih menjadi barang mewah, mahal, dan langkah. Sebab susu yang dihasilkan dari sapi belum banyak dibudidayakan di Indonesia, dan Toko Oen termasuk restoran mahal di zaman itu. Orang-orang Belanda, orang kaya, dan bangsawan saja yang bisa menikmati es krim.

Sedangkan masyarakat menengah ke bawah, agar bisa menikmati es krim, mereka berkreasi; mengganti bahan susu dengan santan, lalu dikenallah Es Puter atau Es Dung Dung.

Toko Oen Semarang
Toko Oen Semarang by Sari Novita indoepic.com

Toko Oen: Tamu dan Berbagai Rasa

Perayaan ulang tahun teman merupakan waktu yang paling ditunggu oleh anak-anak untuk menikmati es krim di Toko Oen—tidak semua berasal dari anak pejabat atau keluarga kaya. Varian es krim yang mereka gemari saat itu ialah Tutti Frutti, Domino, dan Sonny Boy.

Selain momen ulang tahun, sebagian besar tamu yang datang ke Toko Oen adalah tentara, pegawai pemerintahan Belanda, keluarga keraton Solo dan Yogyakarta. Ketika ibukota dipindahkan ke Yogyakarta tahun 1946, konsumen Toko Oen pun berubah, yang kerap hadir di sana berasal dari kalangan pejabat Pemerintah Indonesia.

Sajian kuliner dari 3 bangsa, roti dan kue Belanda, es krim, dan tempat yang luas, adalah alasan tamu-tamu senang berkumpul sambil bersantai di Toko Oen. Tidak sedikit juga yang menikmati high tea seraya menyantap kue kering, taart, atau cake yang dilanjutkan makan malam, dan ada juga tamu yang hanya datang khusus untuk menikmati es krim.

Sampai saat ini, Tutti Fruitti, Domino, dan Sonny Boy menjadi menu pelepas rindu, nostalgia untuk anak-anak di jaman itu, dan juga generasi berikutnya. Selain ketiga varian es krim tersebut, kamu bisa menikmati ice cream per scoop sesuai selera kamu sebab ada pilihan rasa:coklat, vanila, strawberry, rum raisins, kopyor, mocca, dan stracciatella, ditambah es krim potong yang tak kalah nikmat: Tutti Frutti dan Oen’s Symphony.

Berkembangnya zaman, tahun 2020, Toko Oen menambah variasi: tiramisu, green tea, nutella, cheesecake, ginger, dan banyak lagi, dengan membuka gerai baru “Oud en Nieuw” di kawasan Kota Lama Semarang.

Es Krim Toko Oen – Image: Toko Oen Semarang

Mesin Pembuat Es Krim

Meskipun zaman terus bergerak, es krim yang dihidangkan di Toko Oen Semarang masih menggunakan sistem, resep, dan mesin yang sama seperti zaman dulu. Resep dasar lama dikombinasikan dengan variasi rasa yang lebih kekinian. Pembuatannya pun masih menggunakan mesin konvensional—sebelum Toko Oen membeli mesin es Carpigiani, generasi kedua Toko Oen membuat es krim yang didinginkan dengan balok-balok es dan garam—suatu hari dibuatlah kotak yang dimasukkan air garam yang didinginkan dengan kompresor dan aliran freon. Sampai saat ini, Toko Oen Semarang masih menggunakan mesin lama dan model pendingin jadul tersebut.

Teknik pendinginan yang mencampurkan es dan garam ditemukan dalam buku teks medis Arab tahun 1242 dan buku lain berbahasa Arab yang berisi resep sorbet—metode tersebut mulai dikenal bangsa barat pada awal abad ke-161

Toko Oen Semarang belum mengganti mesin berteknologi terbaru, sebab resep asli Oma Oen menggunakan bahan-bahan alami dan pengolahannya dengan cara tertentu, sehingga tidak dapat diterapkan pada sistem mesin modern. Mesin berteknologi baru banyak menggunakan bahan-bahan kimia sebagai stabilisator, pengembang, pengawet, pengatur kristal, dan lain-lain yang dijadikan satu dalam gelato mix agar mudah dibuat oleh semua orang.

Es Krim Toko Oen Semarang – IMage Toko Oen Semarang

Melestarikan Warisan Oma Oen

Ibu Jenny Megaradjasa, generasi ketiga pemilik Toko Oen Semarang, tetap menjalankan konsep Toko Oen, yaitu melestarikan kuliner zaman dulu. Jika memungkinkan dimasak dengan teknologi baru dan tanpa mengubah rasa, Toko Oen akan senang hati mengikutinya. Namun berbeda dengan pembuatan es krim, “Belum bisa tergantikan,” ucap Ibu Jenny, “kami pun terus belajar perkembangan teknologi agar kami tetap dapat melestarikan apa yang telah ada, dan tidak terpaku dengan masa lalu.”

Sementara perkembangan zaman dan teknologi mengejar, Ibu Jenny dan Toko Oen tidak gentar menghadapi para pesaing dan tetap bertahan. Faktor-faktor utama dalam menjalankan bisnis adalah konsep yang kuat, menjaga kualitas, dan tidak menjadi ‘pengikut’ tren kekinian. Rasa rindu terhadap hidangan legendaris dan nostalgia tidak mudah terhapus oleh zaman, dan setiap masa memiliki hambatan dan tantangannya sendiri.

Ibu Jenny bercerita bahwa budaya makan di Semarang termasuk yang paling unik, banyak kuliner legendaris dan terkenal, beliau berharap mereka tidak ikut-ikutan tren. Sebab ciri khas setiap kuliner legendaris atau tradisional dan cerita di baliknya akan bertahan dan dicari orang, tren baru justru sudah banyak dan malah akan membuat orang bosan.

Kami sebagai generasi penerus Toko Oen, kontinu melestarikan resep-resep Oma Oen sebaik dan seasli mungkin agar warisan rasa ini dapat turun-menurun, menjadi abadi dan kita semua bisa bernostalgia.

– Jenny Megaradjasa, Generasi Ketiga Toko Oen

Sumber tulisan: Hasil wawancara Ibu Jenny Megaradjasa, Toko Oen Semarang

1Chris Clarke, Buku Science of Ice Cream, 2004

Toko Oen Semarang : Jl. Pemuda No. 52, Semarang

Oud en Nieuw : Gedung GKBI, Jl. Mpu Tantular 29, Kota Lama, Semarang

Related Posts

Leave a Reply

X